Selasa, 11 September 2012

 BAB I PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan memegang peran penting dalam membentuk karakter suatu bangsa. Kemajuan pendidikan di suatu Negara selalu berkorelasi positif terhadap kemajuan peradaban bangsa tersebut.
Melalui kegiatan pembelajaran di sekolah, diharapkan tercipta kesempatan yang luas bagi setiap individu untuk mengembangkan dirinya secara optimal, sesuai potensi yang dimiliki dan sesuai pula dengan situasi lingkungan yang tersedia sesuai dengan rumusan tujuan pendidikan nasional.
UU Sisdiknas tahun 2003 Bab II pasal 3 menyebutkan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan  bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang MahaEsa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Masih banyaknya jumlah pengangguran dari golongan usia produktif di sekitar kehidupan kita merupakan indikasi bahawa proses pendidikan belum berjalan dengan baik. Padahal salah satu indikator keberhasilan pendidikan nasional adalah terciptanya individu yang mandiri.
Salah satu respon pemerintah terhadap kondisi ini adalah dengan menyelenggarakan pendidikan kejuruan di tingkat Sekolah Menengah Atas, yaitu SMK. Tujuan SMK adalah untuk  mempersiapkan peserta didik menguasai keterampilan tententu untuk memasuki dunia kerja dan sekaligus memberikan bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

                                                                  (1)



SMK mempunyai tiga jenis mata pelajaran yang digolongkan menjadi mata pelajaran Normatif, Adaptif dan Produktif. Dari ketiga golongan mata pelajaran ini, golongan mata pelajaran produktif merupakan mata pelajaran yang penting. Siswa dituntut untuk mempunyai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang merupakan bekal bagi para siswa nantinya untuk dapat diterapkan dan dikembangkan dalam dunia kerja. Mata pelajaran Produktif dikembangkan sesuai dengan program keahlian yang diselenggarakan, Begitu pula dengan SMK Negeri 1 Samadua kabupaten Aceh Selatan tempat penulis akan melakukan penelitian.
Hasil observasi awal peneliti, salah satu mata pelajaran produktif yang mengalami masalah pada program keahlian Teknik Gambar Bangunan adalah Rencana Anggaran Biaya (RAB). RAB merupakan mata pelajaran untuk mengetahui tentang cara menghitung biaya dan penyelenggaraan kontruksi bangunan dengan baik. Melalui  pelajaran RAB diharapkan siswa dapat merencanakan anggaran dan kebutuhan untuk suatu bangunan.
Berdasarkan Hasil Ujian Harian dan mata pelajaran RAB pada saat observasi awal di SMK Negeri 1 Samadua,  nilai RAB yang diperoleh siswa pada tahun ajaran 2012/2013 semester ganjil di kelas XI Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan dapat dilihat pada tabel 1.1 di bawah.
Informasi lain yang peneliti peroleh dari observasi di kelas ini adalah partisipasi belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran cenderung rendah. Hanya sedikit siswa merespon pembelajaran, sebagian besar di antara mereka terlihat pasif.
Rendahnya hasil dan partisipasi belajar siswa bisa saja disebabkan oleh beberapa faktor. faktor internal seperti kemampuan dasar akademik dan  minat belajar siswa. Faktor eksternal siswa seperti model pembelajaran yang digunakan oleh guru di dalam pembelajaran.

                                                                  (2)




Tabel 1.1 Hasil UJian Harian Rencana Anggaran Biaya Kelas XI TGB Tahun Ajaran 2012/2013 Semester Ganjil
No
Nama Siswa
KKM
Nilai
Remedial
Keterangan
1
Agus Riani
70
25
70
Lulus setelah remedial
2
Arfiandi
70
53
70
Lulus setelah remedial
3
Desria Saputri
70
30
70
Lulus setelah remedial
4
Fajar Al K
70
80
-
Lulus
5
Herliza
70
47
70
Lulus setelah remedial
6
Intan Masniar
70
19
70
Lulus setelah remedial
7
Iqbal Khusharyadi
70
20
70
Lulus setelah remedial
8
Jerry Pratama
70
42
70
Lulus setelah remedial
9
Khairuman
70
10
70
Lulus setelah remedial
10
Marza
70
10
70
Lulus setelah remedial
11
Mona Ulyanti
70
38
70
Lulus setelah remedial
12
Rio Taupik Saldi
70
60
70
Lulus setelah remedial
Nilai tertinggi

80


Nilai terendah

10


Nilai rata-rata kelas

36,17
70,83


Sumber : Daftar Nilai Harian Guru Mata Pelajaran RAB Kelas XI TGB SMK N 1 Samadua

Fakta lain dari observasi awal yang penulis lakukan, pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru mata pelajaran masih menganut paham lama dimana guru terlihat mendominasi kegiatan pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran juga masih minimum, guru hanya berceramah dan menuliskan materi pelajaran di papan tulis. padahal berdasarkan hasil penelitian, diyakini bahwa suatu materi pembelajaran harus didesain sedemikian rupa sehingga mengakomodasi tipe pembelajar, dan gaya belajar, bukan hanya menunjukkan gaya mengajar instrukturnya.

                                                                  (3)




Jhon Dewey dalam (Miftahul Huda, 2011), pendidikan memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan minat siswa, memperluas dan mengembangkan horizon keilmuan mereka, dan membantu mereka agar mampu menjawab tantangan dan gagasan baru di masa mendatang.
Dengan demikian, pendidikan, khususnya sekolah, harus memiliki sistem pembelajaran yang menekankan proses dinamis yang didasarkan pada upaya meningkatkan keingintahuan  siswa tentang dunia. Pendidikan harus mendesai pembelajaran yang responsive dan berpusat pada siswa agar minat dan aktivitas sosial mereka terus meningkat sehingga tercipta hasil belajar yang positif baik secara kuantitatif maupun kualitatif dari dalam diri siswa.
Berdasarkan uraian di atas,  juga analisis penulis terhadap permasalahan di kelas XI program keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 1 Samadua, Sebagai alternatif pemecahan masalah di kelas tersebut, penulis merencanakan untuk melakukan pernelitian tindakan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Student Teams Learnig dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Penelitian akan penulis rancang dengan berfokus pada salah satu model pembelajaran Student Teams Learning yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (selanjutnya penulis sebut Model Pembelajaran STAD) dengan pertimbangan berikut:
1)      Miftahul Huda (2011), pada tahun 1981, Jhonson dan beberapa rekannya mempublikasikan hasil meta-analisis mereka terhadap 122 studi yang meneliti pengaruh-pengaruh pembelajaran kooperatif, kompetitif, dan individualistic terhadap prestasi belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat memberikan pencapaian dan produktiivitas yang lebih tinggi seperti semangat untuk belajar.

                                                                  (4)




2)      Model pembelajaran STAD mengutamakan kerjasama inter-group, nilai kelompok sangat ditentukan oleh kemampuan setiap individu memecahkan masalah sehingga setiap individu di dalam kelompok harus bekerjasama, saling membantu, dan bertukar pengetahuan sebelum akhirnya mereka diuji secara individual. Kondisi ini sangat baik untuk membangun karakter positif dalam diri siswa untuk mengeksplorasikan diri melalui komunikasi sosial yang positif. Dengan demikian, sangat memungkinkan bahwa tidak hanya hasil belajar siswa yang meningkat, tetapi juga partisipasi belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran.
B.       IDENTIFIKASI MASALAH
Dari latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi masalah-masalah yang terkait dengan penelitian ini, yaitu :
1.      Partisipasi belajar siswa di dalam pembelajaran rendah
2.      Hasil belajar RAB rendah
3.      Guru mata pelajaran masih memberlakukan pembelajaran konvensional
4.      Media pembelajaran yang digunakan guru mata pelajaran tidak mampu menumbuhkan minat belajar siswa.

C.      PEMBATASAN MASALAH
Agar penelitian ini tercapai sesuai dengan tujuan penelitian, serta kondisi keterbatasan waktu dan kemampuan penulis, penelitian ini dibatasi pada lingkup penelitian:
1.    Penelitian di lakukan di kelas XI program keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 1 Samadua

                                                                  (5)




2.    Penelitian dilakukan pada mata pelajaran Rencana Anggaran Biaya, Kompetensi Dasar menghitung volume/ kubikasi pekerjaan pada konstruksi bangunan sederhana.
3.    Penelitian dilakukan dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas, dengan menerapkan pembelajaran koperatif tipe STAD.
4.    Penelitian fokus pada bagaimana pengaruh pembelajaran STAD terhadap partisipasi dan hasil belajar siswa di kelas penelitian sebelum dan sesudah dilakukan penelitian tindakan.

D.      RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, teridentifikasi bahwa permasalahan yang dihadapi pada pembelajaran RAB adalah rendahnya partisipasi dan hasil belajar siswa.  Penulis menilai perlu diupayakan dengan pembaharuan model pembelajaran yang sesuai untuk menyelesaikan permasalahan tersebut agar nantinya siswa memiliki kompetensi sesuai dengan yang diharapkan.
Berdasarkan uraian tersebut, maka permasalahan yang akan diselesaikan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Bagaimana menerapkan model pembelajaran STAD untuk meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran RAB, Kompetensi Dasar menghitung volume/ kubikasi pekerjaan pada konstruksi bangunan sederhana..
2.      Bagaimana memilih media pembelajaran yang mampu menumbuhkan minat belajar belajar siswa.

                                                                  (6)




3.      Bagaimana pengaruh model pembelajaran STAD terhadap partisipasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran RAB, Kompetensi Dasar menghitung volume/ kubikasi pekerjaan pada konstruksi bangunan sederhana.

E.       TUJUAN PENELITIAN
Secara umum pelaksanaan penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas proses pembelajaran RAB di kelas XI Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Neger1 1 Samadua. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran STAD terhadap partisipasi dan hasil belajar siswa.

F.       MANFAAT PENELITIAN
Secara Teoritis  penelitian ini diharapkkan dapat memberikan manfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan tentang pendekatan pembelajaran yang berkaitan dengan hasil belajar RAB dengan penerapan metode pembelajaran STAD. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan juga bermanfaat dan memperkaya sumber kepustakaan dan dapat disajikan sebagai bahan acuan dan penelitian lebih lanjut di masa yang akan datang.
Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat:
1.      Bagi guru, yaitu dalam bentuk tindakan nyata membantu usahanya dalam meningkatkan partisipasi belajar siswa dalam pembelajaran di kelas sehingga akan tercapai kualitas proses secara optimal pada gilirannya dapat memperoleh hasil belajar lebih baik.
2.      Bagi siswa, yaitu terbimbing untuk aktif berpartisipasi dalam pembelajaran serta memperoleh hasil belajar lebih baik.
Sekolah dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi yang dapat digunakan oleh guru mata pelajaran lain. 

                                                                  (7)




BAB II KAJIAN PUSTAKA

A.      KAJIAN TEORI
1.        Hakikat Hasil Belajar Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Sudjana (2009) ada empat komponen utama proses belajar mengajar, yakni tujuan, bahan, metode dan alat, dan penilaian. Tujuan sebagai arah dari proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah rumusan tingkah laku yang diharapkan dapat dikuasai siswa setelah menerima atau menempuh pengalaman belajarnya. Bahan adalah seperangkat pengetahuan ilmiah yang dijabarkan dari kurikulum untuk disampaikan atau dibahas dalam proses belajar mengajar agar sampai  kepada tujuan yang telah ditetapkan. Metode dan alat adalah cara atau teknik yang digunakan dalam mencapai tujuan. Sedangkan penilaian adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak yang kemudian dideskripsikan sebagai hasil belajar.
Menurut Djamarah dalam (Jayanti, 2012) hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa dari aktivitas belajarnya dalam bentuk skor/nilai yang diperoleh dari hasil tes perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat diidentifikasikan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman, sikap, dan tingkah laku, kecakapan, keterampilan, dan kemampuan, serta perubahan aspek – aspek yang lain yang ada pada individu yang belajar. Hasil belajar biasanya dinyatakan dalam bentuk skor, yang didapat setelah siswa mengikuti tes hasil belajar yang dilakukan setelah program pengajaran selesai.
Hal ini sejalan dengan pendapat Sudjana (1988) yang menyatakan bahwa hasil belajar adalah penilaian hasil usaha dan kegiatan yang dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf yang mencerminkan hasil yang dicapai oleh seseorang dalam jangka waktu tertentu. Hasil belajar dapat dilihat dari hasil nilai ulangan harian (formatif), nilai ulangan tengah (subsumatif) dan nilai ulangan semester (sumatif).

                                                                  (8)





Menurut Sudjana dalam Kunandar (2008) hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran, yaitu berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan. Sedangkan Nasution dalam Kunandar (2008) berpendapat bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan pada individu yang belajar, tidak hanya mengenai pengetahuan, tetapi juga membentuk kecakapan dan penghayatan dalam diri pribadi individu yang belajar. Sukardy (1988) menyatakan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai dari proses belajar. Kegiatan yang dilakukan siswa dan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran merupakan proses pembelajaran. Sedangkan hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Howard Kingsley (dalam Sudjana 2009) membagi tiga macam hasil belajar yakni, (a) keterampilan dan kebiasaan (b) pengetahuan dan pengertian (c) sikap dan cita-cita. Sedangkan Gagne membagi lima kategori hasil belajar yakni (a) informasi verbal (b) keterampilan intelektual (c) strategi kognitif (d) kognitif, dan (e) ketarampilan motoris.
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membagina menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris.
                                                                  (9)





Dari uraian pendapat ahli di atas diketahui bahwa pembelajaran pada hakikatnya adalah usaha yang dilakukan untuk memimbing individu untuk mencapai rumusan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan untuk kemudian diorientasikan sebagai  hasil belajar. Di dalam penerapannya, rumusan tujuan pembelajaran sistem pendidikan nasional, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, hasil belajar diuraikan atas tiga aspek yakni aspek kognitif yang berkenaan dengan hasil belajar intelektual. Aspek afektif yang berkenaan dengan sikap. Dan aspek psikomotoris yang berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak.
Bachtiar Ibrahim (2008) Rencana Anggaran Biaya suatu bangunan atau proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah, serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek tersebut.
Mata pelajaran RAB adalah kumpulan bahan kerja dan pelajaran yang mengungkapkan tentang tata cara dan penggambaran bagian kontruksi bangunan secara utuh serta cara perhitungan biaya dan penyelenggaraan kontruksi bangunan (Depdikbud, 1993). Mata pelajaran ini berfungsi sebagai:
a.    Mata pelajaran kejuruan yang membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan dalam penggambaran dan perencanaan biaya serta pelaksanaan pekerjaan bangunan gedung.
b.    Dasar pengembangan diri untuk mengikuti kemajuan ilmu dan teknologi dalam bidang perencana bentuk, biaya dan pelaksanaan pekerjaan bangunan gedung.

                                                                  (10)





Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar rencana anggaran biaya adalah suatu hasil dari kegiatan siswa mempelajari tentang merencanakan suatu bangunan dalam bentuk dan faedah dalam penggunaannya, serta besar biaya yang dibutuhkan dan susunan-susunan pelaksanaan dalam bidang administrasi maupun pelaksanaan kerja dalam bidang teknik yang dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf sesuai dengan indikator pemebelajaran yang ditetapkan. Seperti:
1.    Siswa mampu memahami penjelasan mengenai gambar dan bestek secara menyeluruh yang dirangkaikan dengan peninjauan lokasi pekerjaan.
2.    Siswa mampu menginterpretasikan gambar desain secara tepat, sehingga dasar-dasar yang terkandung dalam gambar dapat dikomunikasikan dan dihubungkan menjadi wujud suatu bangunan.
3.    Siswa mampu menghitung volume setiap butir pekerjaan secara rinci dan memilahnya pada pos-pos pekerjaan secara berurutan.
4.    Siswa mampu menentukan harga satuan bahan dan upah, menghitung harga satuan pekerjaan berdasarkan daftar analisa, dan menetapkan besarnya rencana anggaran biaya.
5.    Siswa mampu membuat grafik dan jadwal pelaksanaan pekerjaan.
2.        Hakikat Partisipasi Belajar Siswa
a.      Pengertian Partisipasi
Saca Firmansyah (2008), dalam  http://www.scribd.com/doc/36250559/4/ Indikator-Partisipasi-Siswa-Dalam-Pembelajaran, menyatakan Partisipasi bisa diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam interaksi sosial dalam situasi tertentu. Dengan pengertian itu, seseorang bisa berpartisipasi bila ia menemukan dirinya dengan atau dalam kelompok, melalui berbagai proses dengan orang lain dalam hal nilai, tradisi, perasaan, kesetiaan, kepatuhan dan tanggungjawab bersama.

                                                                  (11)





Sementara itu, Menurut Keit Davis dalam Sastroputro (1989) menyatakan bahwa partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosi seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta tanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan. Sedangkan George Terry dalam Winardi (2002) menyatakan bahwa partisipasi adalah turut sertanya seseorang baik secara mental maupun emosional untuk memberikan sumbangan-sumbangan pada proses pembuatan keputusan, terutama mengenai persoalan dimana keterlibatan pribadi orang yang bersangkutan melaksanakan tanggung jawabnya untuk melakukan hal tersebut. Partisipasi siswa dalam pembelajaran sering juga diartikan sebagai keterlibatan siswa dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.
Jadi partisipasi yang peneliti maksud adalah partisipasi siswa yang merupakan wujud tingkah laku siswa secara nyata dalam kegiatan pembelajaran yang merupakan totalitas dari suatu keterlibatan mental dan emosional siswa sehingga mendorong mereka untuk memberikan kontribusi dan bertanggung jawab terhadap pencapaian suatu tujuan yaitu tercapainya prestasi belajar yang memuaskan.

b.      Jenis-jenis Partisipasi
Untuk meperoleh gambaran yang jelas tentang partisipasi, disini akan dipaparkan mengenai jenis-jenis partisipasi menurut Keit Davis dalam Sastroputro (1989). Jenis-jenis partisipasi tersebut adalah:

                                                                  (12)





a.       Partisipasi berupa pikiran (psychological participation) merupakan jenis keikutsertaan secara aktif dengan mengerahkan pikiran dalam suatu rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu.
b.       Partisipasi yang berupa tenaga (physical Participation) adalah partisipasi dari individu atau kelompok dengan tenaga yang dimilikinya, melibatkan diri dalam suatu aktifitas dengan maksud tertentu.
c.       Partisipasi yang berupa tenaga dan pikiran (physical and psychological participation). Partisipasi ini sifatnya lebih luas lagi disamping terjadi karena orang atau kelompok tidak bisa terjun langsung dari kegiatan tersebut.
d.      Partisipasi yang berupa keahlian (participation with skill) merupakan bentuk partisipasi dari orang atau kelompok yang mempunyai keahlian khusus, yang biasanya juga berlatar belakang pendidikan baik formal maupun non formal yang menunjang keahliannya.
e.       Partisipasi yang berupa barang (material participation), partisipasi dari orang atau kelompok dengan memberikan barang yang dimilikinya untuk membantu pelaksanaan kegiatan tersebut.
f.        Partisipasi yang berupa uang (money participation), partisipasi ini hanya memberikan sumbangan uang kepada kegiatan.

c.      Faktor-faktor yang Menyebabkan Partisipasi
Menurut Sudjana dalam Hayati dalam http://www.scribd.com /doc/36250559/4/Indikator-Partisipasi-Siswa-Dalam-Pembelajaran, partisipasi siswa di dalam pembelajaran merupakan salah satu bentuk keterlibatan mental dan emosional. Disamping itu, partisipasi merupakan salah satu bentuk tingkah laku yang ditentukan oleh lima faktor, antara lain:

                                                                  (13)




a.       Pengetahuan/kognitif, barupa Pengetahuan tentang tema, fakta, aturan, dan ketrampilan membuat translation.
b.       Kondisi situasional, seperti lingkungan fisik, lingkungan sosial, psikososial dan faktor-faktor sosial.
c.       Kebiasaan sosial, seperti kebiasaan menetap dan lingkungan.
d.      Kebutuhan, meliputi kebutuhan Approach (mendekatkan diri), Avoid (menghindari), kebutuhan individual.
e.       Sikap, meliputi pandangan/perasaan, kesediaan bereaksi, interaksi sosial, minat dan perhatian.

d.      Prasyarat Terjadinya Partisipasi
Berdasarkan pendapat Keit Davis dan Newstrom dalam Hayati (2001) dalam http://www.scribd.com /doc/36250559/4/Indikator-Partisipasi-Siswa-Dalam-Pembelajaran, bahwa ada beberapa prasayarat terjadinya partisipasi , yaitu antara lain:
a.   Waktu yang cukup untuk berpartisipasi Maksudnya adalah harus ada waktu yang cukup untuk berpartisipasi sebelum diperlukan tindakan, sehingga partisipaisi hampir tidak tepat apabila dalamsituasi darurat.
b.       Keuntungannya lebih besar dari kerugian. Artinya kemungkinan mendapat keuntungan seyogyanya lebih besar daripada kerugian yang diperoleh.
c.       Relevan dengan kepentingan siswa. Artinya bidang garapan partisipasi haruslah relevan dan menarik bagi siswa.

                                                                  (14)




d.      Kemampuan siswa. Artinya siswa hendaknya mempunyai pengetahuan seperti kecerdasan dan pengetahuan untuk berpartisipasi.
e.       Kemampuan berkomunikasi timbal balik. Maksudnya para siswa haruslah mampu berkomunikasi timbal balik untuk berbicara dengan bahasa yang benar dengan orang lain.
f.        Tidak timbul perasaan terancam bagi kedua belah pihak Artinya masing-masing pihak seharusnya tidak merasa bahwa posisinya terancam oleh partisipasi.
g.       Masih dalam bidang keleluasan. Maksudnya partisipasi untuk meneruskan arah tindakan dalam pembelajaran yang hanya boleh berlangsung dalam bidang keleluasaan belajar dengan batasan-batasan tertentu untuk menjaga kesatuan bagi keseluruhan.
Pada hakekatnya belajar merupakan interaksi antara siswa dengan lingkungannya. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil belajar yang optimal perlu keterlibatan atau partisipasi yang tinggi dari siswa dalam pembelajaran. Keterlibatan siswa merupakan hal yang sangat penting dan menentukan keberhasilan pembelajaran.
Dalam kegiatan belajar, siswa dituntut secara aktif untuk ikut berpartisipasi dalam pembelajaran. Karena dengan demikian siswalah yang akan membuat suatu pembelajaran dikatakan sukses, efektif dan efesien. Siswa yang aktif dalam pembelajaran akan terlihat pada baik dan buruknya prestasi yang diperoleh.
Sudjana dalam Mulyasa (2004:156) dalam http://www.scribd.com /doc/36250559/4/Indikator-Partisipasi-Siswa-Dalam-Pembelajaran mengemuka-kan syarat kelas yang efektif adalah adanya keterlibatan, tanggung jawab dan umpan balik dari siswa. Keterlibatan siswa merupakan syarat pertama dalam kegiatan belajar di kelas. Untuk terjadinya keterlibatan itu siswa harus memahami dan memiliki tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan belajar atau pembelajaran. Keterlibatan itupun harus memiliki arti penting sebagai bagian dari dirinya dan perlu diarahkan secara baik oleh sumber belajar. 

                                                                  (15)






Untuk mendorong partisipasi siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain memberikan pertanyaan dan menanggapi respon siswa secara positif, menggunakan pengalaman berstruktur, dan menggunakan metode yang bevariasi yang lebih melibatkan siswa.
Siswa sebagai subjek sekaligus objek dalam pembelajaran. Sebagai subjek siswa adalah individu yang melakukan proses belajar mengajar. Sebagai objek karena kegiatan pembelajaran diharapkaan dapat mencapai perubahan perilaku pada diri subjek belajar. Untuk itu, dari pihak siswa diperlukan partisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Partisipasi aktif subjek belajar dalam proses pembelajaran antara lain dipengaruhi faktor kemampuan yang dimiliki hubungannya dengan materi yang akan dipelajari.

e.       Indikator Partisipasi Siswa Dalam Pembelajaran
Indikator pertisipasi belajar siswa diantaranya adalah:
a.   Bertanya
b.  Menjawab pertanyaan
c.   Mengerjakan tugas
d.  Mengemukakan ide
e.   Merespon gagasan orang lain
f.   Berdiskusi (pembelajaran STAD)

                                                                  (16)





3.      Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif STAD
3.1 Hakikat Pembelajaran Kooperatif
Selama dua dekade sebelum Perang Dunia II, penelitian-penelitian tentang individu dalam kelompok memperlihatkan pada kita bahwa perilaku manusia pada umumnya akan berubah ketika mereka membentuk kelompok atau bergabung dalam kelompok-kelompok tertentu. Allport (dalam Miftahul Huda, 2011), misalnya menemukan bahwa ada perbedaan yang menonjol dalam hal kuantitas dan kualitas kerja individu ketika mereka mau membuka diri untuk saling mendengar dan peduli pada hasil kerjanya satu sama lain. Ia juga mencatat bahwa sebuah kelompok yang tengah bekerja sama cenderung berfikir lebih efisien daripada satu anggota terbaik kelompok tersebut yang bekerja sendiri. Singkatnya, individu-individu yang berkelompok dapat bekerja lebih efektif daripada individu-individu yang bekerja sendirian.
Artzt & Newmen dalam (Trianto, 2011) menyatakan bahwa dalam belajar kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan kelompoknya. Slavin dalam (Trianto, 2011) dalam belajar koopeartif, siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4-5 orang untuk bekerja sama dalam menguasai materi yang diberikan guru. Pembagian kelompok dalam pembelajaran kooperatif, setiap anggota kelompok diatur agar heterogen dalam tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan suku/ras.  

                                                                  (17)




 
Trianto (2011) pembelajaran kooperatif bernaung dalam teori konstruktivis. Pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif.
Menurut ibrahim dkk (2000) pembelajaran koopertif adalah unik, karena pembelajaran kooperatif suatu struktur tugas dan penghargaan yang berbeda dalam mengupayakan pembelajaran siswa. Struktur tugas itu menghendaki siswa untuk bekerja bersama dalam kelompok-kelompok kecil. Struktur penghargaan itu mengakui upaya kolektif dan individual. Model kooperatif memfukuskan pada pengaruh-pengaruh pengajaran selain pembelajaran akademik, khususnya menumbuhkan penerimaan antara kelompok serta keterampilan social dan kelompok
a.      Unsur-Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Menurut Lungren dalam (Ratumanan, 2002), dalam Trianto (2011), unsur-unsur dasar yang perlu untuk ditanamkan kepada siswa agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan lebih efektif lagi adalah:
1)   Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam” atau “berenang” bersama;
2)   Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap setiap siswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi;

                                                                  (18)





3)   Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama;
4)   Para siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama besarnya di antara para anggota kelompok;
5)   Para siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompoknya;
6)   Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar; dan
7)   Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

b.      Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
Apabila diperhatikan secara seksama, pembelajran kooperatif ini memiliki cirri-ciri tertentu dibandingkan dengan ppembelajaran model lainnya. Arends dalam Trianto (2012) menyatakan bahwa pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)      Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar
2)      Kelompok dibentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
3)      Bia memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, dan jenis kelamin yang beragam; dan
4)      Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok daripada individu.


                                                                  (19)





c.       Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

Fase ke-
Indikator
Kegiatan Guru
1
Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau lewat bacaan
3
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok – kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok – kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajariatau masing – masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
6
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok
Tabel 2.1. Langkah pembelajaran kooperatif
(Ibrahim dkk, dalam Trianto (2011)

d.      Variasi Model Pembelajaran Kooperatif
Adapun beberapa variasi dalam model pembelajaran cooperative learning dalam Trianto (2011) adalah sebagai berikut:
1)      STAD ( Students Team Achievement Divisions)
2)      Jigsaw
3)      NHT ( Numberid Head Togedher)
4)      TPS (Think Pair Share)
5)      TGT (Team games Tournament)
6)      GI (Group Investigations

                                                                  (20)





3.2 Hakikat Pembelajaran STAD
Model Pembelajaran STAD merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif dengan menggnakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok kuis, dan penghargaan terhadap kelompok.
Slavin dalam (Trianto, 2011) menyatakan bahwa pada model pembelajaran STAD siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja dalam tim mereka memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut.
1)      Persiapan Pembelajaran STAD
Seperti halnya pembelajran lain, pembelajaran STAD juga membutuhkan persiapan-persiapan matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Persiapan-persiapan tersebut antara lain:
a.       Mempersiapkan perangkat pembelajaran
Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajran, perlu dipersiapakan perangkat pembelajaran yang meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Buku siswa, lembar kegiatan siswa beserta jawabannya.
b.      Membentuk kelompok kooperatif
Menentukan anggota kelompok diusahakan agar kemampuan antar satu kelompok dengan kelompok lainnya relatif homogeny. Apabila memuningkinkan kelompok kooperatif perlu memperhatikan ras, agama, jenis kelamin, dan latar belakang sosial. Trianto (2011)vapabila dalam kelompok kelas terdiri atas ras dan latar belakang yang relatif sama, maka pembentukan kelompok dapat didasarkan pada prestasi akademik, yaitu dengan cara:

                                                                  (21)






  1. Siswa dalam kelas terlebih dahulu dirangking sesuai kepandaian dalam ranah kognitif. Tujuannya adalah untuk mengurutkan siswa sesuai kemampuan kognitifnya.
  2. Menentukan tiga kelompok kelas dari data urutan yang meliputi kelompok atas, kelompok menengah, dan kelompok bawah. Kelompok atas sebanyak 25% dari seluruh siswa yang diambil dari urutan. Kelompok kelas bawah sebanyak 25% dari seluruh siswa yaitu terdiri atas siswa setelah diambil kelompok atas dan kelompok tengah.
c.       Menentukan skor awal
Skor awal yang dapat digunakan dalam kelas kooperatif adalah nilai ulangan sebelumnya. Nilai awal ini dapat berubah setelah ada kuis. Misalnya pembelajaran lebih lanjut dan setelah diadakan tes, maka nilai tes masing-masing individu dapat dijadikan skor awal.
d.      Pengaturan tempat duduk
Pengaturan tempat duduk dalam kelas kooperatif perlu diatur dengan baik, hal ini dilakukan untuk menunjang keberhasilan pembelajaran kooperatif. Apabila tidak ada pengaturan tempat duduk dapat menimbulkan kekacauan yang menyebabkan gagalnya pembelajaran pada kelas kooperatif
e.       Pelatihan kerja kelompok
Untuk mencegah adanya hambatan pada model pembelajaran STAD, terlebih dahulu diadakan latihan kerjasama kelompok. Hal ini bertujuan untuk lebih jauh mengenalkan masing-masing individu dalam kelompok. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan pekerjaan rumah dalam bentuk tugas kelompok.

                                                                  (22)





2)      Langkah-langkah Pembelajaran STAD
Langkah-langkah pembelajaran STAD ini didasarkan pada langkah-langkah pembelajaran kooperatif yang terdiri atas enam fase. Fase-fase dalam pembelajran ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Fase
Kegiatan Guru
1.      Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa
Menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
2.      Menyajikan/ menyampikan informasi
Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau lewat bacaan
3.      Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar
Menjelaskan kepada siswa bagaimana membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
4.      Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Membimbing kelompok – kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
5.      Evaluasi
Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari
6.      Memberikan penghargaan
Mencari cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok

Tabel 2.2. Langkah pembelajaran STAD
(Ibrahim dkk, dalam Trianto (2011)

(23)

 

 
  1. Pedoman pemberian skor individu dan kelompok
Cirri khas dari pembelajaran STAD adalah adanya penghargaan atas keberhasilan kelompok individu dan kelompok. Penghargaan  dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a.       Menghitung skor individu
Menurut Slavin dalam (Trianto, 2011) untuk memberikan skor perkembangan individu dihitung seperti pada tabel berikut:
Skor Tes
Skor Perkembangan Individu
a.       Lebih dari 10 poin di bawah skor awal
b.      10 hingga 1 poin di bawah skor awal
c.       Skor awal sampai 10 poin di atasnya
d.      Lebih dari 10 poin di atas skor awal
e.       Nilai sempurna (tidak berdasarkan skor awal)
5
10
20
30
30
Tabel 2.3. Perhitungan skor perkembangan individu
b.      Menghitung skor kelompok
Skor kelompok dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan anggota kelompok, yaitu dengan menjumlahkan semua skor perkembangan yang diperoleh anggota kelompok dibagi dengan jumlah anggota kelompok. Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan kelompok, diperoleh kategori skor kelompok tercantum pada tabel berikut:
Rata-rata tim
Predikat
a.       0 < x < 5
b.      5 < x < 15
c.       15 < x < 25
d.      25 < x < 30
-
Tim baik
Tim hebat
Tim super
Tabel 2.4. Perhitungan skor perkembangan individu
(sumber: Ratumanan dalam (Trianto,2011))


Tahap pemberian penghargaan kelompok, berdasarkan skor rata-rata yang dikategorikan menjadi kelompok baik, kelompok hebat dan kelompok super.


                                                                  (24)






B.       PENELITIAN YANG RELEVAN
Andi (2010) dalam penelitiannya, Penerapan Model Pembelajaran STAD untuk meningkatkan hasil belajar RAB di SMK 1 Stabat, mengungkapkan bahwa pembelajaran dengan menereapkan model STAD mampu meningkatkan hasil belajar secara signifikan.
Ita (2011) Skripsi matematika: http://itayskripsimatematika.blogspot.com/ mengemukakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif mampu meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa.
Newman dan Thompson (1987) dalam Miftahul (2011), pada peleitian-penelitiannya yang melibatkan metode-metode pembelajaran kooperatif STAD, TGT, JIG-jigsaw, LT-Learning Together, GI-Group Investigation, mengungkapkan bahwa dari 27 penelitian yang melibatkan 37 perbandingan antar kelompok kooperatif dan kelompok control yang berusaha mengidentifikasi pengaruh model pembelajaran kooperatif terhadap pencapaian siswa SMP dan SMA, 25 di antarannya (68%) menemukan bahwa metode pembelajaran kooperatif berpengaruh signifikan terhadap pencapaian siswa (dengan level minimal signifikansi 0,5)
                                                                  (24)







C.      KERANGKA BERFIKIR
Memperoleh proses dan hasil belajar yang optimal membutuhkan model pembelajaran yang lebih bermakna dimana melalui model pembelajaran tersebut mampu mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa secara komprehensif. Untuk itu, pengetahuan dan pemahaman guru terhadap model pembelajaran dalam pelaksanaan pembelajaran sangat penting sebagai salah satu upaya untuk mengoptimalakan pembelajaran. Guru dituntut agar dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan harus memperhatikan hakikat, tujuan mata pelajaran yang diajarkan, serta mempertimbangkan karakteristik siswa.
Menyikapi permasalah proses dan hasil belajar siswa kelas XI  Program KEeahlian Teknik Gambar Bangunan di SMK Negeri 1 Samadua dimana proses pembelajaran berjalan pasif dan hasil ujian yang relative rendah, penulis menerapkan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran STAD.
Sebagaimana dijabarkan dalam kajian teoritis bahwa pembelajaran STAD merupakan salah satu bentuk pembelajaran kooperatif di mana di dalam kegiatan pembelajaran mengutamakan kerjasama antar siswa untuk saling memperkuat pemahaman, saling melengkapi, sehingga membangun karakter-karakter positif yang menekankan toleransi terhadap sesama.
Dalam penerapannya, metode pembelajaran STAD mengharuskan setiap individu mengembangkan kemampuannya secara optimal. Disamping itu, seorang siswa tidak boleh membiarkan teman kelompoknya lalai dalam pembelajaran. Setiap kelompok harus kompak mengoptimalkan kemampun masing-masing anggotanya untuk memperoleh predikat kelompok terbaik. Nilai kelompok merupakan rataan yang berasal dari kombinasi setiap nilai anggota kelompoknya. Dengan demikian, keseriusan dan keaktifan belajar, akan ditularkan setiap anggota kelompok kepada anggota kelompok lainnya sehingga kompetisi ini secara tidak langsung mengharuskan setiap siswa saling membiasakan dan mengingatkan untuk meningkatkan kemampuan diri.  

                                                                  (25)





D.      HIPOTESIS TINDAKAN
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir tersebut di atas, hipotesis tindakan yang diajukan sebagai berikut: setelah pelaksanaan tindakan terdapat pengaruh atas penerapan model pembelajaran STAD terhadap partisipasi dan hasil belajar RAB siswa kelas XI program keahlian Teknik Gambar Bangunan di SMK Negeri 1 Samadua Kabupaten Aceh Selatan. Pada Kompetensi Dasar Menghitung Volume/ Kubikasi Pekerjaan pada Konstruksi Bangunan Sederhana.

  
                                                                  (26)




BAB III  METODOLOGI PENELITIAN

A.    TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Samadua Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan untuk mata pelajaran Rencana Anggaran Biaya (RAB). Penelitian ini akan dilaksanakan pada awal semester ganjil Tahun Pembelajaran 2012/2013, yaitu bulan Nopember sampai dengan Desember 2012.

B.     SUBJEK PENELITIAN
Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan di SMK Negeri 1 Samadua Kabupaten Aceh Selatan Tahun Pembelajaran 2012/2013

C.    PARTISIPAN PENELITIAN
Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 1 Samadua. Dalam kelas ini terdiri dari 12 siswa yang terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Dalam penelitian ini dibantu oleh satu orang guru mata pelajaran RAB sebagai mitra dan penulis sendiri sebagai pelaku tindakan.

D.    METODE DAN RANCANGAN PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas. Pemilihan metode ini didasari sebagai upaya peningkatan efektivitas pembelajaran yang berlangsung dalam tahapan siklus. Setiap siklus direncanakan akan dilakukan dalam tiga pertemuan kegiatan pembelajaran. Bermula dari perencanaan, tindakan, observasi, refleksi, dan kembali perencanaan untuk tindakan kelas. Diharapkan masalah praktis pembelajaran dapat diatasi. Oleh karena itu paradigm penelitian ini berawal dari pengamatan guru terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan guna perbaikan di masa yang akan datang. 

                                                                   (27)




Ebbut dalam Justina (2010) menyatakan bahwa: penelitian tindakan kelas adalah kajian sistematik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktik pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran berdasarkan refleksi mereka dari hasil tindakan-tindakan tersebut. 

Untuk mewujudkan tujuan penlitian ini, penelitian ini dirancang dengan pengkajian model DDAER (diagnosis, design, action and observation, evaluation, reflection) yang merupakan desain lengkap PTK. Dalam model ini, penelitian tindakan dimulai dari diagnosis masalah sebelum tindkan dipilih. Secara implisit, diagnosis masalah diuraikan dalam latar belakang masalah. Setelah masalah didiagnosis, dilanjutkan dengan mengidendifikasi tindakan dan memilih salah satu tindakan yang layak untuk mengatasi masalah. Secara visual, desain penelitian model ini dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 3.1 Desain PTK Model DDAER
(sumber: Modul Pelatihan PPG, FT-UNY)



1.      Diagnosis Masalah
2.      Perancangan Tindakan
3.      Pelaksanaan Tindakan
dan Observasi Tindakan
4.      Evaluasi
5.      Refleksi


Penelitian tindakan ini dilakukan berdasarkan permasalahan, selanjutnya pemilihan kemungkinan pemecahan masalah, dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan yang telah dipilih sampai pada tahap evaluasi untuk selanjutnya merefleksi hasil tindakan yang kemudian dilanjutkan dengan perumusan tindakan berikutnya. Proses penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam rangkaian siklus, setiap siklus akan dilakukan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Berikut Diagram Alur Rancangan Penelitian yang penulis rencakan.



                                                                                   (28)                                                                 




Lebih rinci rancangan penelitian tindakan diuraikan sebagai berikut:
Siklus 1
Tahap
Kegiatan
Hasil
Persiapan
Sosialisasi tentang PTK dan Identifikasi masalah pengajaran
-     Pemahaman tentang PTK
-     Masalah-masalah dalam pembelajaran
Perencanaan
-       Menyusun jawal kegiatan
-       Menyusun langkah-langkah kegiatan
-       Menyusun rencana pelaksanaan dan skenario pembelajaran
-       Menyusun standar pencapaian minimal
-       Menyusun instrumen penelitian
-       Tersedia jadwal kegiatan
-       Tersedia langkah-langkah kegiatan
-       Tersedia rencana pelaksanaan dan skenario pembelajaran
-       Standar pencapaian penelitian
-       Instrumen penelitian
Tindakan
-       Mempersiapkan kelas, alat dan media pembelajaran sesuai dengan RPP
-       Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan skenario yang telah dipersiapkan
-    Kondisi kelas siap untuk pembelajaran
-    Kegiatan pembelajaran sesuai dengan rencana tindakan.
Evaluasi
Menganalisa hasil tes dan observasi pada pelaksanaan tindakan untuk menetapkan tingkat keberhasilan.
Tingkat keberhasilan tindakan
Refleksi
Mengkaji berbagai hal yang terjadi dan yang seharusnya dilakukan
-          Keunggukan dan kelemahan tindakan
-          Informasi untuk rencana tindakan selanjutnya.
SIKLUS 2
Mendiag-nosis masalah
Mengidentifikasi masalah  yang timbul terkait tujuan penelitian setelah pelaksanaan tindakan sebelumnya.
Rumusan tindakan yang harus dilakukan pada siklus 2
Perencanaan
Menyusun rencana pelaksanaan dan skenario pembelajaran sesuai dengan tujuan penelitian dan hasil analisis tindakan pada siklus pertama
Rencana pelaksanaan pembelajaran dan skenario pembelajaran siklus 2
Tindakan
Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan skenario yang telah disiapkan (RPP)
Kegiatan pembelajaran
Evaluasi
-          Menganalisis data penelitian
-          Menyimpulkan keberhasilan
Persentase peningkatan partisipasi dan hasil belajar
Refleksi
Mengkaji hal-hal yang terjadi dalam pelaksanaan tindakan
Rekomendai untuk menentukan apakah tindakan harus dilanjutkan.




Tabel 3.1. Rancangan Penelitian

                                                                   (29)



E.  TEKNIK DAN ALAT PENGUMPULAN DATA
Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang akan digunakan berpedoman pada paradigma penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Eka Mulyani dalam Justina (2010) menyatakan penelitian kualitatif yaitu penelitian dimana data yang dikumpulkan dalam bentuk simbol-simbol pernyataaan-pernyataan dan perasaan-perasaan. Sedangkan penelitian kuantitatif adalah penelitian yang datanya dilambangkan dengan simbol matematik yang berupa angka-angka.
Dalam penelitian tindakan ini, teknik  pengumpulan data yang digunakan penulis tertera pada tabel berikut:
Teknik Pengumpul Data
Alat Pengumpul Data
Aspek yang diamati
Waktu
Tes
-          Tes Objektif

Soal

Tes hasil belajar
-    Akir pembelajaran
-    Akhir Siklus
Observasi
Lembar observasi
Prtisipasi belajar siswa
Pelaksanaan pembelajaran

Tabel 3.2. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Tabel di atas menunjukkan alat dan teknik pengumpulan data, aspek yang diamati, serta waktu kapan digunakan teknik dan alat pengumpulan data tersebut dalam pelaksanaan tindakan. Sumber data penelitian adalah aktivitas guru dan siswa selama  proses peaksanaan tindakan baik di awal pembelajaran, pada saat pembelajaran, dan di akhir pembelajaran.

                                                                   (30)



Observasi dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Observasi dilaksanakan untuk melihat sejauh mana siswa berpartisipasi positif dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan. Tes dilakukan setelah pembelajaran pada pertemuan setiap siklusnya melalui kuis dan juga  pada akhir setiap siklus yang telah direncanakan. Tes dilaksanakan untuk melihat hasil belajar siswa setelah pelaksanaan tindakan pada kompetensi yang telah ditetapkan. Secara lebih detail distribusi instrumen tes dan nontes dapat dilihat dalam kisi-kisi instrumen berikut: 
Kompetensi Dasar
Indikator
Jenis Tes
No mor Soal
Jumlah
Ranah Kognitif
Ket
C1
C2
C3
Menghitung volume pekerjaan struktur dan non struktur bangunan gedung sederhana.
SIKLUS 1

-    Menghitung volume pekerjaan Kap dan atap (10,11)
Tes objektif
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10
10
1, 2
3, 4, 5,
6, 7, 8, 9, 10
Pilihan ganda
(kuis)
-    Menghitung volume pekerjaan plesteran (12)
Tes objektif
11, 12, 13, 14
4
11
12
13, 14
Pilihan ganda
(kuis)
-    Menghitung volume pekerjaan lantai (12)
Tes objektif
15, 16, 17, 18, 19, 20
6
15,
16, 17,
18, 19, 20
Pilihan ganda
(kuis)
SIKLUS 2
-    Menghitung volume pekerjaan pintu dan jendela (13)
Tes objektif

21, 22, 23, 24, 25, 26, 27
7
21, 22
23, 24
25, 26, 27
Pilihan ganda
(kuis)
-    Menghitung volume pekerjaan pengecatan (13)
Tes objektif
28, 29, 30
3
28,
29,
30
Pilihan ganda
(kuis)
-    Menghitung  volume pekerjaan perlengka-pan luar dan dalam (14)
-    Merekapitu-lasi data perhitungan volume pekerjaan (14)
Tes objektif
31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40
10
31, 32, 33
33, 34, 35
36, 37, 38, 39, 40
Pilihan ganda
(ujian)
-    Tes Ujian Siklus 1, 2 (15)
Tes objektif
41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 47, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60
20
41, 45,  50, 56,
42, 43, 46, 48 53, 54, 57,
44, 47, 49, 51. 52, 55, 58, 59, 60
Pilihan ganda
Tabel 3.3. Kisi-kisi tes hasil belajar RAB Siklus 1 dan Siklus 2

(31)





Kompetensi Dasar
Indikator Pembelajaran
Indikator pernyataan
Indikator Partisipasi Belajar yang diamati
Menghitung volume/ kubikasi pekerjaan pada konstruksi bangunan sederhana.
Siklus 1
-    Menghitung volume pekerjaan Kap dan atap (10,11)
-          Pengetahuan tentang kap dan atap
-          Melakukan perhitungan volume kap/ atap di papan tulis
-       Bertanya
-       Menjawab pertanyaan
-       Mengemukakan ide
-       Merespon ide/ gagasan
-       Berdiskusi kelompok
-      Mengerjakan kuis
-    Menghitung volume pekerjaan plesteran (12)
-          Pengetahuan tentang plesteran
-          Demonstrasi perhitungan volume plesteran di papan tulis
-       Bertanya
-       Menjawab pertanyaan
-       Mengemukakan ide
-       Merespon ide/ gagasan
-       Berdiskusi kelompok
-      Mengerjakan kuis
-    Menghitung volume pekerjaan lantai (12)
-          Pengetahuan tentang pekerjaan lantai
-          Demonstrasi perhitungan volume pekerjaan lantai  di papan tulis
-       Bertanya
-       Menjawab pertanyaan
-       Mengemukakan ide
-       Merespon ide/ gagasan
-       Berdiskusi kelompok
-      Mengerjakan kuis
Siklus 2
-    Menghitung volume pekerjaan pintu dan jendela (13)
-          Pengetahuan tentang pekerjaan pintu dan jendela
-       Bertanya
-       Menjawab pertanyaan
-       Mengemukakan ide
-       Merespon ide/ gagasan
-       Berdiskusi kelompok
-      Mengerjakan kuis
-    Menghitung volume pekerjaan pengecatan (13)
-          Pengetahuan tentang pekerjaan pengecatan
-          Demonstrasi perhitungan volume pekerjaan pengecatan di papan tulis
-       Bertanya
-       Menjawab pertanyaan
-       Mengemukakan ide
-       Merespon ide/ gagasan
-       Berdiskusi kelompok
-      Mengerjakan kuis
-    Menghitung  volume pekerjaan perlengka-pan luar dan dalam (14)
-          Pengetahuan tentang pekerjaan perlengkapan luar dan dalam suatu konstruksi bangunan
-       Bertanya
-       Menjawab pertanyaan
-       Mengemukakan ide
-       Merespon ide/ gagasan
-       Berdiskusi kelompok
-      Mengerjakan kuis
-     Merekapitulasi data perhitungan volume pekerjaan (14)
-          Pengetahuan tentang uraian pekerjaan
-       Bertanya
-       Menjawab pertanyaan
-       Mengemukakan ide
-       Merespon ide/ gagasan
-       Berdiskusi kelompok
-      Mengerjakan kuis
Tabel 3.4. Kisi-kisi observasi pengamatan partisipasi belajar siswa

(32)




F.     UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN
Sebelum digunakan sebgai alat pengumpul data tes tersebut diujicobakan pada siswa di luar sampel dan didiskusikan bersama para ahli statistik terlebih dahulu sehingga dapat diketahui validitas, reabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda tes tersebut. Sedangkan instrumen nontes dalam penelitian ini observasi, harus didiskusikan bersama para ahli sehingga diperoleh validitas isi intrumen nontes tersebut.
1.      Validitas
Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Validitas sebuah tes dapat diketahui dari hasil pemikiran dan dari hasil pengalaman, hal pertama yang akan diperoleh adalah validitas logis. Logis berarti penalaran, maka validitas logis untuk sebuah instrumen menunjukkan pada kondisi instrumen yang memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran (Arikunto, 2006). Untuk mengukur validitas butir tes pada penelitian ini digunakan rumus Korelasi Point Biserial, yaitu :
Dimana :
rpbis  = koefisien korelasi point biserial
Mp  = mean skor dari subjek – subjek yang menjawab benar
Mt   = mean skor total (skor rata – rata dari seluruh pengikut tes)
p     = proporsi subjek yang menjawab benar soal tersebut
q     = 1 – p


(33) 





Kemudian harga rpbis hitung dikonsultasikan dengan harga rpbis tabel dengan taraf signifikansi 5 %. Apabila rpbis hitung > rpbis tabel maka butir tes tersebut valid dan demikian sebaliknya. Apabila rpbis hitung  < rpbis tabel maka butir tes tersebut tidak valid.

2.      Indeks Kesukaran Tes
Menurut Arikunto (2006) soal baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya. Rumus mencari indeks kesukaran (P) adalah :

Dimana :  P  = indeks kesukaran
     B  = banyaknya siswa yang menjawab benar
     JS = jumlah seluruh peserta tes

Arikunto (2006) mengklasifikasikan indeks kesukaran sebagai berikut :
1)   soal dengan P = 1,00 sampai 0,30 adalah soal sukar
2)   soal dengan P = 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang
3)   soal dengan P = 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah
Walaupun demikian ada yang berpendapat bahwa soal yang dianggap baik yaitu soal-soal yang sedang yaitu soal yang mempunyai indeks kesukaran 0,30 sampai 0,70.


(34)



 

3.      Daya Pembeda Tes
Arikunto (2006) mengatakan daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Dalam mencari daya pembeda subjek peserta tes dipisahkan menjadi dua bagian sama besar berdasarkan skor total yang mereka peroleh. Rumus yang digunakan untuk mencari daya pembeda setiap butir tes adalah :


Dimana :
D         = daya pembeda butir soal
JA         = banyaknya peserta kelompok atas
JB         = banyaknya peserta kelompok bawah
BA        = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar
BB        = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Harga daya pembeda menurut Arikunto (2006) diklasifikasikan sebagai berikut :
0,00 – 0,20           = Buruk
0,21 – 0,40           = Cukup
0,41 – 0,70           = Baik
0,71 – 1,00           = Baik Sekali

(35)





4.      Uji Reliabilitas Butir Tes
Arikunto (2006) mengatakan bahwa reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawaban – jawaban tertentu. Instrumen yang sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Apabila datanya memang benar sesuai dengan kenyataannya, maka berapa kalipun diambil tetap akan sama. Reliabilitas menunjukkan pada tingkat keterandalan sesuatu. Reliabel artinya, dapat dipercaya. Perhitungan reliabilitas tes siswa yang diperoleh akan dikonsultasikan dengan rtabel pada taraf signifikan 5 %. Untuk menghitung reliabilitas butir tes siswa digunakan rumus KR20 seperti yang dikemukakan oleh Arikunto (2006), yaitu :


Dimana :
r11                    = koefisien reliabilits tes keseluruhan
n                      = banyak butir tes
St2                   = varians total
P                     = proporsi test yang menjawab dengan benar
Q                    = proporsi test yang jawabannya salah, q = 1 – p
              = jumlah dari hasil perkalian antara p dengan q

Harga efisien reliabilitas tes yang telah diperoleh dikonfirmasikan dengan kriteria reliabilitas tes (Arikunto, 2006) yaitu sebagai berikut :
0,80 – 1,00           = Sangat Tinggi
0,60 – 0,79           = Tinggi
0,40 – 0,59           = Cukup
0,20 – 0,39           = Rendah
0,00 – 0,19           = Sangat Rendah


(36)


 

G.    ANALISIS DATA
Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif sederhana. Data yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah:
1.      Partisipasi belajar RAB siswa dengan model STAD
Partisipasi belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan partisipasi siswa dalam pembelajaran RAB sebelum dan setelah mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran STAD, yang terlihat dalam lembar observasi.
Adapun perhitungan tingkat pertisipasi belajar siswa dilakukan dengan cara:
-          Partisipasi belajar siswa secara umum 
 
N = Jumlah skor total dari enam indikator yang diamati

-          Partisipasi belajar siswa berdasarkan indikator ke-i 
  
ni = Jumlah skor kelas  dari indikator ke-i yang diamati.

(37)




2.      Analisa terhadap hasil belajar siswa
Untuuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran STAD terhadap hasil belajar siswa, analisis dilakukan melalui tahapan:
a.       Tabulasi data
Nilai-nilai yang diambil sebagai rataan akhir untuk diuji signifikansi kenaikannya berasal dari nilai-nilai kuis, dan nilai ujian semester ganjil (khusus soal dari indikator pembelajaran yang ada termasuk dalam siklus tindakan sebanyak 20 soal) dengan bobot kuis 40% dan ujian 60% dari nilai total.
b.      Menentukan nilai rata-rata kelas:
c.       Menentukan nilai kelulusan siswa:
-          Jika nilai ujian > nilai KKM maka siswa lulus, jika tidak harus diremedial
d.      Menentukan persen kelulusan siswa

n = Jumlah siswa lulus, N = Jumlah seluruh siswa
e.       Uji signifikansi kenaikan nilai sebelum dan sesudah pelaksanaan pembelajaran STAD:
Untuk menentukan tingkat keberartian peningkatan hasil belajar siswa, digunakan uji t dua sampel berhubungan sebagai berikut:
Taraf signifikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0,05 dengan nilai df = (n-1)
(Moh. Nazir, 2005)


(38)





H.    INDIKATOR KEBERHASILAN
Komponen-komponen yang menjadi indikator perubahan pada setiap siklus dalam rancangan penelitian ini adalah:
1.      Indikator pertama untuk menunjukkan keberhasilan proses pembelajaran adalah suksesnya peneliti dalam melaksanakan proses pembelajaran dan suksesnya siswa dalam mengikuti pembelajaran. Suksesnya peneliti dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dilihat dari terlaksananya rencana pelaksanaan tindakan. Peneliti tidak menemui masalah yang serius berkaitan dengan fasilitas, materi, dan prosedur pelaksanaan tindakan. Suksesnya siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dilihat dari partisipasi positif siswa dalam pembelajaran. Partisipasi belajar siswa meningkat dibandingkan dengan pelaksanaan pembelajaran sebelum menggunakan model pembelajaran STAD.
2.      Indikator kedua yang menunjukkan adanya pengaruh penerapan model pembelajaran STAD adalah terjadinya perubahan hasil belajar siswa. Dalam hal ini tentunya perubahan positif yang diinginkan (peningkatan hasil belajar). Penelitian dianggap sukses atau efektif apabila:
a.       siswa dapat menunculkan respon-respon yang diharapkan (partisipasi belajar) setelah berlangsungnya kegiatan pembelajaran.
b.      Rata-rata skor tes siswa > 70%, hal ini mengacu pada kriteria ketuntasan belajar minimum yang diterapkan di sekolah.
c.       Peningkatan nilai rata-rata skor tes siswa dianggap signifikan setelah dilakukan uji T dalam taraf signifikan 0,05, apabila nilai t lebih besar daripada nilai t pada table distribusi t dalam (Nazir, 2005)

(39)




I.       JADWAL PENELITIAN
Penelitian ini direncanakan terjadwal sebagai berikut:
N
O
Kegiatan
September
Oktober
Nopember
Desember
Januari
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
5
1
2
3
4
1
2
3
4
Pra Penelitian





















1
Pengajuan Judul Penelitian





















2
Bimbingan skripsi





















3
Observasi awal penelitian





















4
Penyusunan proposal





















5
Pengajuan seminar proposal





















6
Uji instrumen penelitian





















Penelitian





















1
Siklus 1






















a.       Diagnosis masalah






















b.      Perancangan tindakan






















c.       Pelaksanaan tindakan






















d.      Evaluasi siklus 1






















e.       Refleksi












































2
Siklus 2






















a.       Diagnosis masalah






















b.      Perancangan tindakan






















c.       Pelaksanaan tindakan






















d.      Evaluasi siklus 2






















e.       Refleksi





















3
Pengolahan data penelitian





















4
Menyusun laporan hasil penelitian























(40)






SILABUS


Nama Sekolah             : SMK Negeri 1 Samadua
Mata Pelajaran            : Rencana Anggaran Biaya
Kelas/ Semester           : XI/ 1,2
Standar Kompetensi   : Menghitung rencana anggaran biaya konstruksi bangunan sederhana
Alokasi waktu             : 32 Pertemuan (2 x 40 menit)
Kompetensi Dasar
Materi Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
Indikator
Penilaian
Alokasi Waktu
Sumber/ Bahan/ Alat/ Media
TM
PS
PL
1.       Membaca Gambar Bestek
-          Dasar-dasar RAB
-          Bestek (Peraturan dan Syarat Tekniks)
-          Gambar Bestek
-          Mengkaji literature tentang RAB
-          Mengkaji literatur tentang Bestek
-          Mengamati gambar bestek
-          Menjelaskan  pengertian RAB
-          Mengidentifikasi unsur-unsur pokok menyusun RAB
-          Mendeskripsikan hakikat bestek
-          Mengidentifikasi gambar bestek
Tes tertulis
2


Sumber:
-    Buku pelajaran RAB:
-      Rencana dan Estimate Real of Cost (H.Bachtiar Ibrahim, Bumi Aksara; 2008)
-      Cara Cepat Menghitung Biaya Membangun Rumah (Gatut Susanta, Griya Kreas;2011)
-    Internet
-    Bestek
-    Gambar Rencana Pembangunan Rumah (gambar bestek)
-    Proyek pembangunan gedung sederhana

Alat:
-     Computer
-     Lcd


Media
-     Power point
-     White board

2.       Menghitung Volume/ Kubikasi Pekerjaan pada Konstruksi bangunan Sederhana
-          Pengertian Kubikasi pekerjaan
-          Uraian Kubikasi Pekerjaan
-          Pekerjaan persiapan
-          Pekerjan Pondasi
-          Pekerjaan Beton bertulang
-          Pekerjaan dinding
-          Pekerjaan KAP dan Atap
-          Pekerjaan plafond
-          Pekerjaan plesteran
-          Pekerjaan lantai
-          Pekerjaan pintu dan jendela
-          Pekerjaan cat
-          Pekerjaan perlengkapan dalam
-          Pekerjaan perlengkapan luar
-          Mengkaji literature tentang kubikasi pekerjaan
-          Mengamati komponen-komponen bangunan melalui kunjungan proyek ataupun melalui  contoh gambar

-          Mengidentifikasi pengertian kubikasi pekerjaan
-          Menguraikan pekerjaan-pekerjaan yang akan dihitung kubikasinya. (3)
-          Menghitung volume pekerjaan persiapan
-          Menghitung volume pekerjaan pondasi (4, 5)
-          Menghitung volume pekerjaan beton bertulang (6,7)
-          Menghitung pekerjaan dindidng (9)
-          Menghitung volume pekerjaan Kap dan atap (10,11)
-          Menghitung volume pekerjaan plesteran
-          Menghitung pe-kerjaan lantai (12)
-          Menghitung volume pekerjaan pintu dan jendela
-          Menghitung volume pekerjaan pengecatan (13)
-          Menghitung  volume peker-jaan perleng-kapan luar dan dalam (14)
-          Merekapitulasi data perhitungan volume pekerjaan (15)
Tes tertulis
14


3.       Menghitung dan Mengurai-kan Harga Satuan Pekerjaan
-          Analisa bahan
-          Analisa upah
-          Uraian tenaga kerja
-          Uraian bahan/ material
-          Uraian harga satuan pekerjaan
-          Mengkaji literature analisa upah dan bahan
-          literature harga satuan pekerjaan
-          Mencari analisa satuan pekerjaan,  data upah dan bahan dari dina PU

-          Mengidentifikasi kebutuhan bahan
-          Mengidentifikasi upah pekerjaan
-          Menghitung kebutuhan tenaga kerja tiap volume pekerjaan
-          Menghitung harga satuan pekerjaan
Tes tertulis
10


4.       Menghitung Estimate Real of Cost
-          Persentase pekerjaan
-          Time schedule
Mengkaji literature tentang persentase pekerjaan dan pengolahan time schedule
-          Menghitung persentase tiap uraian pekerjaan
-          Membuat time schedule
Tes tertulis
6














    
 (Sumber silabus: Ka. Jur. Teknik Gambar Bangunan SMK N 1 Samadua)