BAB
I PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKAG MASALAH
Pendidikan merupakan suatu proses dimana manusia
yang satu membina manusia yang lain yang
dilakukan secara sadar dan terencana. Melalui pendidikan diharapkan dapat
menjawab berbagai tantangan kehidupan, baik secara fisik maupun psikologi.
Dengan pendidikan pula diharapkan dapat memperoleh nuansa yang bertamnbah maju
sehingga melahirkan manusia yang mempunyai kebiasaan bekierja keras dan mandiri
dalam mencari pengetahuan baru dan dapat memecahkan msalah yang baru.
Pembelajaran menurut Sri Mulyani, dkk (1991: 59),
pembelajaran berasal dari kata belajar yang mempunyai arti suatu proses usaha
yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh tingkah laku yang baru secara
keseluruhan sebagai hasil pengalahan individu dalam interaksinya dengan
lingkungan.
Sedangkan menurut Sudjana (2000),
pembelajaran merupakan upaya pendidikan untuk membantu peserta didik dalam
melakukan kegiatan belajar yang dilakukan oleh peserta didik dan kegiatan
pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik.
Di dalam prosesnya, kegiatan
pembelajaran formal dilaksanakan melalui lembaga pendidikan, yaitu sekolah.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang dirancang sebagai wadah dalam proses
pembelajaran formal. Sekolah memiliki
karakteristik tertentu pada setiap jenjangnya. Pendidikan di sekolah dimulai
dari jenjang Pra Sekolah Dasar, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat
Pertama (SLTP), Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), dan Perguruan Tinggi.
Salah satu lembaga pendidikan pada
tingkatan SLTA adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK merupakan salah satu
lembaga pendidikan formal sebagai hasil perkembangan zaman dan teknologi. SMK
bertujuan untuk mempersiapkan peserta
didik menguasai keterampilan tententu untuk memasuki dunia kerja dan sekaligus
memberikan bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Bidang keahlian yang dikembangkan di SMK
berbeda-beda, menyesuaikan dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Di SMK
peserta didik dididik dan dilatih ketrampilan agar professional pada
bidang keahliannya masing-masing..
Di dalam proses pembelajaran guru
memegang peran penting dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan. Guru diharuskan mempunyai kemampuan memahami karakteristik siswa
serta mampu menguasai berbagai pendekatan dan metode dalam mengajar yang sesuai
dengan materi yang diajarkan dan kondisi lingkungan belajar. Kreativitas guru
dalam menerapkan berbagai metode dan strategi pembelajaran akan membuat siswa
antusias dalam belajar yang selanjutnya berdampak pada meningkatnya hasil
belajar.
Kegiatan belajar mengajar di kelas
seringkali mengalami hambatan sehingga komunikasi antara guru dan siswa menjadi
tidak efektif. Begitupula yang terjadi
di SMK N 2 Lubuk Linggau kelas X Busana I tempat peneliti mengajar. Berdasarkan
pengamatan dan evaluasi hasil belajar yang telah peneliti lakukan hambatan ini
terutama terdapat pada materi pembelajaran Memecah Pola Dasar Sesuai dengan
Desain. Hal ini diperkirakan terjadi karena peneliti masih menggunakan metode pembelajaran
konvensional. Peneliti menyadari bahwa pembelajaran ini harus dirancang dan
dikelola ulang dengan baik dan melibatkan siswa secara aktif agar daya
kreativitas siswa berkembang maksimal.
Salah satu model pembelajaran yang
dikembangkan dengan pendekatan siswa sebagai pusat kegiatan pembelajaran
(Student Centered Learning) adalah Pembelajaran Kreatif dan Produktif.
Pendekatan pembelajaran kreatif
produktif antara lain belajar aktif, kreatif, konstruktif dan kooperatif.
Karakteristik penting dari setiap pendekatan tersebut diintegrasikan sehingga
menghasilkan satu model yang memungkinkan siswa mengembangkan kreativitas untuk
menghasilkan produk yang bersumber dari penanaman mereka terhadap konmsep yang
sedang dikaji.
Atas dasar permasalahan yang peneliti
kemukakan di atas, peneliti akan melakukan upaya
perbaikan hasil belajar siswa kelas XI Busana I SMK N 2 Lubuk Linggau dengan
menggunakan “Pembelajaran Kreatif Produktif”.
B.
IDENTIFIKASI
MASALAH
Mengacu pada latar belakang di atas
beberapa masalah yang teridentifikasi adalah:
1.
Siswa lemah dalam menganalisa gambar
desain.
2.
Siswa lambat dalam memecah pola dasar
sesuai desain
3.
Sebagian besar hasil belajar siswa dalam
memecah pola dasar terutama memecah macam-macam pola kerah tidak memenuhi
standar kelulusan.
C. RUMUSAN MASALAH DAN PEMECAHAN
MASALAH
1.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang
tersebut diatas, maka masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah:
”Apakah melalui penggunaan Model Pembelajaran Kreatif Produktif dapat
meningkatkan Kemampuan dan Hasil Belajar Siswa untuk memecah bermacam-macam
Pola Kerah sesuai dengan desain di Kelas X
Busana 1 SMK N 2 Lubuk Linggau?”
2.
Pemecahan
Masalah
Tim Power Brain Indonesia dalam situsnya menyatakan bahwa secara ilmiah sudah diketahui bahwa dalam hal penyerapan informasi manusia dibagi menjadi tiga bagian; manusia visual, yang mana ia akan
secara optimal menyerap informasi yang dibacanya/ dilihatnya; manusia auditorik, di mana
informasi yang masuk melalui apa yang
didengarnya akan diserap
secara optimal; dan manusia kinestetik, di mana
ia akan sangat senang dan cepat mengerti bila
informasi yang harus diserapnya terlebih dahulu
“dicontohkan” atau ia membayangkan orang
lain tersebut melakukan hal tadi (http://www.medikaholistik.com).
Berdasarkan latar
belakang, perumusan masalah dan uraian di atas, dalam penelitian ini peneliti menerapkan model pembelajaran kreatif produktif untuk
memecahkan permasalahan tersebut. Model
pembelajaran kreatif produktif merupakan
implementasi dari Metode Contextual Teaching
and Learning (CTL). Hal ini senada dengan pendapat Nurhadi (2004: 148-149) kunci dalam pembelajaran kontekstual
adalah; (1) real word learning; (2) mengutamakan pengalaman nyata;
(3) berpikir tingkat tinggi; (4) berpusat pada siswa; (5) siswa aktif,
kritis dan kreatif; (6) pengetahuan bermakna dalam kehidupan; (7) pendidikan
atau education bukan pengajaran atau instruction; (8) memecahkan masalah; (9) siswa akting, guru mengarahkan, bukan guru akting, siswa
menonton; (10) hasil belajar di ukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes.
Pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual
memiliki ciri harus ada kerja sama, saling menunjang, gembira, belajar dengan
bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa
aktif, menyenangkan, tidak membosankan, sharing dengan teman, siswa
kritis dan guru kreatif. Proses kegiatan pembelajaran dapat lebih bermakna jika
kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan berangkat dari pengalaman belajar siswa
dan guru yaitu kegiatan siswa dan guru yang dilakukan secara bersama dalam situasi pengalaman nyata, baik
pengalaman dalam kehidupan
sehari-hari maupun pengalaman dalam lingkungan.
D.
TUJUAN
PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan Kemampuan dan
Hasil Belajar Siswa untuk memecah bermacam-macam Pola Kerah sesuai dengan
desain di Kelas X
Busana 1 SMK N 2 Lubuk Linggau melalui penggunaan Model Pembelajaran Kreatif
Produktif.
Secara khusus, pada akhir siklus di dalam penelitian tindakan
kelas ini, ditargetkan tecapai indikator sebagai berikut:
1.
Sejumlah 70% siswa di kelas mampu dalam
menganalisa gambar desain dengan baik.
2.
Sejumlah 70% siswa di kelas mampu dalam
memecah pola dasar sesuai desain dengan cepat.
3.
Sejumlah 70% siswa di kelas memiliki
hasil belajar memecah pola dasar terutama memecah macam-macam pola kerah
memenuhi standar kelulusan yang telah ditentukan.
E.
MANFAAT PENELITIAN
Manfaat
yang diharapkan dari penelitian yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut:
1. Bagi siswa, dengan
diterapkannya model pembelajaran kreatif produktif siswa menjadi lebih aktif
dalam kegiatan pembelajaran sehingga meningkatkan kreativitas dan inovasi
mereka. Selain itu pembelajaran dirasakan lebih menyenangkan karena dalam
porosesnya model pembelajaran ini memberikan kesempatan yang luas bagi siswa
untuk mengeksplorasikan diri.
2.
Bagi guru;
-
Melalui
penelitian ini permasalahan yang dihadapi guru pada proses pembelajaran di
kelas menjadi teratasi.
-
Memacu
perkembangan pengetahuan tentang kegiatan pembelajaran secara signifikan bagi
guru yang mana dalam penelitian juga berperan sebagai peneliti.
3.
Bagi sekolah, hasil pengembangan ini dapat dijadikan
acuan dalam upaya pengadaan inovasi pembelajaran bagi para guru yang lain, juga memotivasi mereka untuk selalu melakukan
inovasi dengan strategi yang bervariasi.
BAB
II KAJIAN PUSTAKA
A. KERANGKA TEORITIS
1.
Hakikat
Hasil Belajar
Belajar
merupakan suatu proses yang ditandai dnegan adanya perubahan pada diri
seseorang. Perubahan-perubahan itu sebagai hasil belajar yang dapat ditunjukkan
dengan berbagai bentuk perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah
laku, keterampilan, kecakapan, dan klemampuan serta perubahan-perubahan pada
aspek lain yang ada pada setiap individu yang belajar.
Menurut
pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah
laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sejalan dengan
yang dikemukakan oleh (Slamet, 1991: 12) bahwa:
“Belajar
adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang
baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman itu sendiri dalam interaksi
dengan lingkkungannya.”
Cronbach
(Yusuf, 2003: 22), menyatakan bahwa perubahan perilaku sebagai hasil dari
pengalaman. Sedangkan Geoch (Yusuf 2003: 22) juga mengemukakan bahwa belajar
adalah perubahan dalam perpormasi sebagai hasil dari praktik-praktik.
Dari
uraian di atas daoat diartikan bahwa belajar adalah suaru proses yang dilakukan
individu secara bertahap dan berurutan serta berdasarkan pengalaman belajar
sebelumnya, yang memerlukan kesiapan
mental yang tinggi untuk memperoleh
suatu percobaan tingkah laku.
Roestiyah
(1990) menyatakan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang
didapat setelah proses belajar. Sehingga dapat diartikan, hasil belajar adakah
kemampuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh siswa setelah siswa tersebut
menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan
pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Uno
(2008) mengungkapkan bahwa hasil belajar dalam tingkatan yang sangat umum
sekali dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: efektivitas, efisiensi, dan
daya tarik. Efektivitas pembelajaran bisanya diukur dengan tingkat epencapaian
peserta didik. Ada empat aspek penting yang dapat dipakai untuk mendeskripsikan
efektivitas pembelajaran, yaitu:
kcermatan penguasaan perilaku yang dipelajari.
Daya
tarik pembelajaran erat kaitannya dengan daya tarik bidang studi, dimana
kualitas pembelajaran biasanya akan mempengaruhi. Itulah sebabnya pengukuran
kecenderungan siswa untuk terus atau tidak terus belajar dapat dikatikan dengan
proses pembelajaran itu sendiri atau dengan bidang studi.
Efesiensi
pembelajaran biasanya diukur dengan rasio keefektivan dan jumlah waktu yang
dipakai si pembelajar atau jumlah biaya yang dikeluarkan si pembelajar.
Hasil
belajar peserta didik dipengaruhi oleh kemampuan peserta didik dan kualitas
pengajar. Kedua factor terebut mempunyai hubungan berbanding lurus dengan hasil
belajar. Artinya semakin tinggi kemampuan peserta didik dan kualitas
pengajaran, maka semakin tinggi pula hasil belajarnya.
Pendapat
tersebut sejalan dengan sebagaimana yang dikutip oleh Sudjana (2000) bahwa
hasil belajar dipengaruhi oleh lima faktor, yaitu: bakat, waktu yang tesedia
untuk belajar, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pelajaran, kualitas
pelajaran, dan kemampuan.
Dalam
sistem pendidikan nasionall rumusan tujuan kurikuler maupun tujuan
instruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar Benyamin Bloom yang secara
garis besar ia membaginya menjadi tiga ranah, yaitu: ranah kognitif, ranah
afektif, dan ranah psikomotorik.
Ranah
kognitif bernenaan dengan hasil belajar intelektualm yang terdiri dari enam
aspek, yaitu: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan
evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah, dan empat aspek
berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.
Ranah
afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yaitu: penerimaan,
jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Sedangkan ranah
psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan
bertindak. Ada enam aspoek psikomotorik, yaitu: gerakan reflex, kemampuan
gerakan dasar, kemampuan perceptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan
keterampilan, dan gerakan ekspresif dan interpretative.
Untuk
dapat menilai hasil belajar diperlukanlah suatu alat evaluasi yang disebut
dengan tes. Tes umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar,
terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan ajar sesuai
dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Ada dua jenis tes yang biasa digunakan
untuk menilai hsil belajar yaitu tes uraian atau essay tes dan tes objektif
yang terdiri dari beberapa bentuk yaitu bentuk benar salah, pilihan ganda
dengan berbagai variasi, menjodohkan, dan isian pendek atau melengkapi.
2.
Hakikat
Memecah Bermacam-macam Pola Kerah
kerah adalah bagian dari sebuah desain pakaian, yang
terletak pada bagian atas pakaian. Dalam menggambar busana perlu mempertimbangkan
bentuk wajah dan leher. Bentuk leher tinggi sebaiknya menggunakan kerah tinggi
atau menutupi sebagian leher seperti kerah kemeja, kerah mandarin dan
lain-lain. Sebaliknya leher yang pendek atau rendah, pilih kerah yang sedikit
sebah seperta kerah rebah, kerah setengah berdiri, kerah cape/ palerin, dan
variasi kerah-kerah yang lain.
Selain berfungsi yntuk memperindah, kerah juga
berfungsi memberikan kenyamanan pada pemakai seperti mempertimbangkan iklim
pada suatu daerah. Kerah terdiri atas beberaa ukuran mulai dari yang kecil
sampai kerah rebah yang lebar seperti kerah caoe. Kerah juga bernacam-macam
bentuknya yaitu kerah yang terletak setengah berdiri dan kerah berdiri.
a.
Kerah
rebah atau datar
Kerah rebah ialah kerah yang pada gambar desain jatunya
melekat atau sejajar pada bahum dada atas dan punggung. Kerah rebah dapat
terdiri dari dua bagian terpisah dengan bukaan tengah muka atau tengah belakang
atau berdiri satu bagian penuh
b.
Kerah
tegak atau kerah berdiri
Krah tegak ialah kerah yang pada gambar desain
melekat dan melebar ke atas pada sekeliling leher atau hanya berupakan sudut
tumpul. Kerah ini terdiri dari dua bagian atas dan bagian bawah kerah yang
disebut penegak atau board dab ada yang terdiri dari satu bagian dan lapisan
kerah saja.
c.
Kerah
menggulung
Kerah menggulung yaitu kerah yang pertamanya tegak
dari pinggiran leher kemudian sisanya dijatuhkan ke bawah di atas baju. Garis
dimana kerah dimulai jatuh dinamakan garis menggulung, membalik atau disebut
garis lipatan kerah. Contoh kerah menggulung atau bentuk membalik adalah kerah
shawl atau kerah selendang.
Berdasarkan cara membuat polanya, macam-macam kerah
dibagi atas tiga bagian yaitu:
1.
Kerah yang dibuat menggunakan pola dasar
muka dan bel;akang, contoh kerah rebah dan setengah rebah
2.
Kerah yang dibuat setali atau digunting
menjadi satu dengan badan, contoh kerah shawl atau kerah selendang atau kerah
rever. Cirri-ciri kerah yang digunting setali atau menjadi satu dengan badan
adalah pada tengah belakang terdapat jahitan.
3.
Kerah yang dibuat menggunakan lingkar
leher adalahh kerah tegak, krah shanghai dan kerah kemeja.
3.
Hakikat
Pembelajaran Kreatif Produktif
Pembelajaran kreatif fdan produktif
menurut Asri Budiningsih (2005) adalah model pembelajaran yang dikembangkan
dengan mengacu kepada berbagai pendekatan pembelajaran yang diasumsikan mampu
meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Pembelajran ini berpijak pada
teori konstruktivistik, dalam pembelajran ini pada siswa diharapkan dapat mengkonstruksi
sendiri konsep atau materi yang mereka dapatkan
Pendekatan pembelajaran kreatif
produktif antara lain belajar aktif, kreatif, konstruktif, kolaboratif dan kooperatif.
Karakteristik penting dari setiap pendekatan tersebut diintegrasikan sehingga
menghasilkan satu model yang memungkinkan siswa mengembangkan siswa
mengembangkan kreativitas untuk menghailkan produk yang bersumber dari
pemahaman mereka terhadap konsep yang sedang dikaji.
Menurut
Wardani (Pharnz’s, 2008), beberapa arakteristik model pembelajaran kreatif dan
produktif adalah sebagai berikut:
1. Keterlibatan
siswa secara itnelektual dan emosionaldalam pembelajaran . keterlibatan ini
difasilitasi melalui pemberian kesempatan pada siswa untuk melakukan eksplorasi
dari konsep bidang ilmu yang sedang dikaji serta menafsirkan hasil eksplorasi
tersebut. Siswa diberikebeabasanuntuk menjelajahi bserbagai sumber yang relefan
dengan topic/ konsep masalahyang akan dikaji.
2. Siswa
didorong untuk menemukan/ mengkonstruksi sendiri konsep yang sedang dikaji
melalui penafsiran yang dilakukan dengan berbagai cara seperti observasi
diskusi atau percobaan. Dengan cara ini konsep tidak ditransfer oleh guru
kepada siswa tetapi dibentuk sendiri oleh siswa berdasarkan pengalaman dan
interaksi dengan pengalaman dan lingkungan yang terjadi ketika melakukan
eksplorasi serta interpretasi.
3. Siswa
diberi kesempatan untuk bertanggung jawab menyelesaikan tugas bersama.
Kesempatan ini diberikan melalui kegiatan eksplorasi, dan interpretasi
4. Mernurut
Erwin Segal pada dasarnya untuk menjadi kreatif seseorang harus bkerja keras,
berdedikasi tinggi, antusiasi, serta percaya diri (black, 2003). Dalam konteks
pembelajaran, kreatifitas dapat ditimbulkan dengan menciptakan suasana kelas
yang memungkinkan siswa dan guru merasa bebas mengkajidan mengeksplorasi
topic-topik penting kurikulum. Guru mengajukan pertanyaa yang membut ssiswa
berfikir keras kemudian mengejar pendapat sisswa tentang ide-ide besar dari
berbagai perspektif, guru juga mendorong siswa untuk menunjukkan atau
mendemonstrasikan pemahamannya tantang topic-topik penting dalam kurikulum
menurut caranya sendiri.
Pembelajran kreatif produktif
berlandaskan pada prinsip dasar ketentuan siswa secara intelektualndan
emosional untuk menentukan sendiri konsep yang sedang dikaji melalui penafsiran
dengan berbagai cara seperti observasi, diskusi atau bercobaan.
Dengan kata lain pembelajaran kreatkif
produktif adalah pembelajaran yang menggunakan pendekatan belajar aktif,
kreatif, produktif, konstruktif, kolaboratif, seracara kooperatif yang
mengharuskan para peserta didik mempunyai perubahan perilaku yang merupakan
buah dari pembelajaran dan erubahan gtersebut terjadi karena dilakukan sesering
mungkin.
B. KERANGKA BERFIKIR
Guru merupakan pelaksana pembelajaran siswa di
kelas. Berhasil tidaknya suatu pembelajaran tersebut, salah satunya dipengaruhi
oleh pemilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan dipembelajarkan
kepada siswa. Metode pembelajaran di sebagian sekolah masih monoton yaitu
menggunakan metode ceramah atau metode konvensional. Metode pembelajaran
konvensional kurang begitu menarik perhatian siswa, karena guru pemegang
otoriter di kelas, sedangkan siswa mempunyai hak untuk mengemukakan pendapat
dengan caranya sendiri (Marsel Ruben Payong; 1997).
Di dalam
pembelajaran berbasis kompotensi guru mempunyai peranan sebagai: 1). Korektor
yaitu guru harus dapat membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang
kurang baik; 2). Inspirator yaitu guru harus memberikan ilham yang baik bagi
kemajuan belajar anak didiknya; 3). Informator yaitu guru harus memberi
informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selain bahan pelajaran
yang ada untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan kurikulum; 4).
Organisator, dalam hal ini guru harus mengatur kegiatan pembelajaran sesuai
jadwal yang berlaku; 5). Motivator yaitu guru harus dapat memberi motivasi siswa
yang.
Guru selaku tenaga pendidik sudah
selayaknya mampu menganalisa kebutuhan belajar siswa, baik segi isi bahan ajar,
metode yang digunakan, perangkat pembelajaran serta pemberian motifasi secara
berkesinambungan. Jika hal ini dilakukan tentu saja hasil belajar siswa dapat
dicapai sesuai dengan tujuan pembelajaran yang di inginkan.
Hasil pembelajaran Memecah Macam-macam
Pola Kerah sesuai dengan Desain di kelas X Busana 1 SMK N 2 Lubuk Linggau
cenderung masih kurang maksimal. Selama ini peneliti yang juga bertindak
sebagai guru kelas masih menerapkan model pembelajaran konvensional.
Berdasarkan uraian pada landasan
teoritis mengenai model pembelajran Kreatif Produktif serta pendapat beberapa
ahli mengenai kelebihan dari model pembelajaran tersebut, peneliti menduga
penerapan model pembelajaran Kreatif Produktif akan meningkatan hasil belajar
tersebut.
C. HIPOTESIS TINDAKAN
Melalui kegiatan belajar mengajar yang
menarik di mana guru menerapkan pembelajaran kontekstual menggunakan model
pembelajaran kreatif dan produktif pada pembelajaran Memecah Macam-macam Pola
Kerah sesuai dengan Desain, minat dan keseriusan siswa untuk belajar akan
meningkat, begitu pula degan hasil pembelajaran pada materi tersebut.
BAB
III METODOLOGI PENELITIAN
A. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini akan peneliti lakukan di
kelas X Busana 1 SMK N 2 Lubuk Linggau. Penelitian akan dilakukan pada minggu
ke empat pada bulan Juli 2012 sampai dengan September 2012.
B. SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian dalam Penelitian
Tindakan Kelas yang akan peneliti lakukan adalah siswa kelas X Busana 1, di SMK
N 2 Lubuk Linggau dengan jumlah responden (siswa) sebanyak 14 orang siswa.
C. PROSEDUR TINDAKAN SETIAP SIKLUS
Penelitian dilakukan dalam dua siklus dengan
masing-masing siklus sebanyak 2 pertemuan. Prosedur tindakan penelitian pada
setiap siklusnya dilakukan dengan menggunakan teknik siklus model Kemmis dan Mc
Taggarndari Deakin University. Menggunakan metode ini tahapan-tahapan yang
dilakukan pada setiap siklusnya adalah sebagai berikut:
1.
Perencanaan Tindakan
Ø Menganalisis
materi pelajaran
Ø Menyiapkan
lembar pengamatan aktivitas belajar
Ø Menyiapkan
rencana pembelajaran
Ø Mengembangkan
alat-alat bantu pengajaran dalam rangka optimalisasi proses belajar mengajar.
2.
Tindakan Pelaksanaan
-
Penelitian ini dilakukan dalam dua
siklus dan setiap siklus melewati dua kali tatap muka
-
Langkah-langkah tindakan pembelajaran
pada setiap siklus dilakukan sesuai dengan RPP yang telah dipersiapkan, yaitu
RPP yang menerapkan metode pembelajaran baru yang akan di teliti, dalam hal ini
peneliti menerapkan model pembelajaran kreatif produktif .
3.
Pengamatan
-
Setelah pelaksanaan tindakan pada siklus
pertama, peneliti melakukan pengamatan terhadap bias dari pelaksanaan tindakan
setiap siklus. pengamatan dilakukan
sesuai dengan teknik pengumpul data dan analisis data.
-
Pengamatan setiap siklus dilakukan
dengan cara yang sama.
4.
Refleksi
-
Setelah dilakukan pengamatan terhadap
data hasil tindakan di kelas, kemudian dilakukan pengkajian terhadap hasil
pengamatan tersebut. Melalui refleksi ini kemudian ditentukan tindakan apa yang
akan dilakukan pada siklus ke dua
-
Refleksi setiap siklus dilakukan dengan
cara yang sama
-
Setelah proses refleksi, masuklah pada
siklus kedua
Begitulah tindakan yang dilakukan pada
setiap siklusnya sampai pada batas siklus yang ditentukan. Pada penelitian ini
peneliti merencanakan sebanyak dua siklus, sehingga setelah refleksi pada
siklus ke dua telah didapatkan kesimpulan dari penelitian ini.
D. TEKNIK DAN ALAT PENGUMPUL DATA
1.
Teknik
pengumpul data
Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan
data yang digunakan adalah dengan menggunakan tes tertulis untuk mengevaluasi
pencapaian aspek kognitif. Tes tertulis dilakukan dengan memberikan soal Essay
kepada siswa Untuk mengevaluasi pencapaian aspek afektif dan psikomotorik menggunakan lembar pengamatan.
2.
Alat
pengumpul data
Alat pengumpul data yang peneliti
gunakan secara umum terbagi atas tiga yaitu:
a.
Pengamatan hasil belajar aspek kognitif,
yaitu dengan memberikan soal essay, data terlampir pada RPP.
b.
Pengamatan hail belajar aspek afektif,
menggunakan lembar observasi. Lembar obeservasi telah terlampir pada RPP.
c.
Hasil belajar aspek psikomotorik,
menggunakan lembar observasi. Lembar obeservasi telah terlampir pada RPP.
E. TEKNIK ANALISIS DATA
Data hasil penelitian ini dianalisis
secara sederhana dengan menggunakan uji statistic sederhana sebagai berikut:
-
Tabulasi data sesuai dengan table hasil
evaluasi yang terlampir dalam RPP
-
Lakukan analisis sederhana dengan
menghitung nilai rata-rata setiap siswa
-
Lakukan analisis terhadap nilai tersebut
dengan membandingkan terhadai nilai kelulusan minimum.
-
Simpulkan tingkat keberhasilan tindakan
yang telah dilakukan dengan mengubah dalam betuk persen keberhasilan sesuai
dengan indicator sebagai berikut:
-
70% siswa di kelas mampu dalam
menganalisa gambar desain dengan baik
-
70% siswa di kelas mampu dalam memecah
pola dasar sesuai desain dengan cepat.
-
70% siswa di kelas memiliki hasil
belajar memecah pola dasar terutama memecah macam-macam pola kerah memenuhi
standar kelulusan yang telah ditentukan.
F. JADWAL PENELITIAN
|
NO
|
KEGIATAN
|
BULAN
|
Ket
|
|||||||||||||||
|
JULI
|
AGUSTUS
|
SEPTEMBER
|
OKTOBER
|
|||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|||
|
1
|
Penyusunan proposal
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Pelaksanaan siklus 1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
-
Perencanaan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
-
Pelaksanaan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
-
Observasi
dan evaluasi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Pelaksanaan siklus 2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
-
Perencanaan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
-
Pelaksanaan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
-
Observasi
dan evaluasi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
DAFTAR
PUSTAKA
Tim pariwisata SMK (2010), Mengola makanan
kondimental
Bahan
ajar profesionalisme guru (2011), pendidikan dan latihan profesi guru
(PLPG)rayon 110 UPI
Baham ajar tata boga
SMK (2011), pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG) rayon 110 UPI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar