Selasa, 11 September 2012


BAB I PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKAG MASALAH
Pendidikan merupakan suatu proses dimana manusia yang satu  membina manusia yang lain yang dilakukan secara sadar dan terencana. Melalui pendidikan diharapkan dapat menjawab berbagai tantangan kehidupan, baik secara fisik maupun psikologi. Dengan pendidikan pula diharapkan dapat memperoleh nuansa yang bertamnbah maju sehingga melahirkan manusia yang mempunyai kebiasaan bekierja keras dan mandiri dalam mencari pengetahuan baru dan dapat memecahkan msalah yang baru.
Pembelajaran menurut Sri Mulyani, dkk (1991: 59), pembelajaran berasal dari kata belajar yang mempunyai arti suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalahan individu dalam interaksinya dengan lingkungan.
Sedangkan menurut Sudjana (2000), pembelajaran merupakan upaya pendidikan untuk membantu peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar yang dilakukan oleh peserta didik dan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik.
Di dalam prosesnya, kegiatan pembelajaran formal dilaksanakan melalui lembaga pendidikan, yaitu sekolah. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang dirancang sebagai wadah dalam proses pembelajaran formal. Sekolah  memiliki karakteristik tertentu pada setiap jenjangnya. Pendidikan di sekolah dimulai dari jenjang Pra Sekolah Dasar, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), dan Perguruan Tinggi.
Salah satu lembaga pendidikan pada tingkatan SLTA adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK merupakan salah satu lembaga pendidikan formal sebagai hasil perkembangan zaman dan teknologi. SMK bertujuan untuk  mempersiapkan peserta didik menguasai keterampilan tententu untuk memasuki dunia kerja dan sekaligus memberikan bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Bidang keahlian yang dikembangkan di SMK berbeda-beda, menyesuaikan dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Di SMK peserta didik dididik dan dilatih ketrampilan agar professional pada bidang  keahliannya masing-masing..
Di dalam proses pembelajaran guru memegang peran penting dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Guru diharuskan mempunyai kemampuan memahami karakteristik siswa serta mampu menguasai berbagai pendekatan dan metode dalam mengajar yang sesuai dengan materi yang diajarkan dan kondisi lingkungan belajar. Kreativitas guru dalam menerapkan berbagai metode dan strategi pembelajaran akan membuat siswa antusias dalam belajar yang selanjutnya berdampak pada meningkatnya hasil belajar.
Kegiatan belajar mengajar di kelas seringkali mengalami hambatan sehingga komunikasi antara guru dan siswa menjadi tidak efektif.  Begitupula yang terjadi di SMK N 2 Lubuk Linggau kelas X Busana I tempat peneliti mengajar. Berdasarkan pengamatan dan evaluasi hasil belajar yang telah peneliti lakukan hambatan ini terutama terdapat pada materi pembelajaran Memecah Pola Dasar Sesuai dengan Desain. Hal ini diperkirakan terjadi karena peneliti masih menggunakan metode pembelajaran konvensional. Peneliti menyadari bahwa pembelajaran ini harus dirancang dan dikelola ulang dengan baik dan melibatkan siswa secara aktif agar daya kreativitas siswa berkembang maksimal.
Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan dengan pendekatan siswa sebagai pusat kegiatan pembelajaran (Student Centered Learning) adalah Pembelajaran Kreatif dan Produktif.
Pendekatan pembelajaran kreatif produktif antara lain belajar aktif, kreatif, konstruktif dan kooperatif. Karakteristik penting dari setiap pendekatan tersebut diintegrasikan sehingga menghasilkan satu model yang memungkinkan siswa mengembangkan kreativitas untuk menghasilkan produk yang bersumber dari penanaman mereka terhadap konmsep yang sedang dikaji.
Atas dasar permasalahan yang peneliti kemukakan di atas, peneliti akan melakukan upaya perbaikan hasil belajar siswa kelas XI Busana I SMK N 2 Lubuk Linggau dengan menggunakan “Pembelajaran Kreatif Produktif”.
B.     IDENTIFIKASI MASALAH
Mengacu pada latar belakang di atas beberapa masalah yang teridentifikasi adalah:
1.      Siswa lemah dalam menganalisa gambar desain.
2.      Siswa lambat dalam memecah pola dasar sesuai desain
3.      Sebagian besar hasil belajar siswa dalam memecah pola dasar terutama memecah macam-macam pola kerah tidak memenuhi standar kelulusan.

C.    RUMUSAN MASALAH DAN PEMECAHAN MASALAH

1.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah: ”Apakah melalui penggunaan Model Pembelajaran Kreatif Produktif dapat meningkatkan Kemampuan dan Hasil Belajar Siswa untuk memecah bermacam-macam Pola Kerah sesuai dengan desain di Kelas X Busana 1 SMK N 2 Lubuk Linggau?”
2.      Pemecahan Masalah
Tim Power Brain Indonesia dalam situsnya menyatakan bahwa secara ilmiah sudah diketahui bahwa dalam hal penyerapan informasi manusia dibagi menjadi tiga bagian; manusia visual, yang mana ia akan secara optimal menyerap informasi yang dibacanya/ dilihatnya; manusia auditorik, di mana informasi yang masuk melalui apa yang didengarnya akan diserap secara optimal; dan manusia kinestetik, di mana ia akan sangat senang dan cepat mengerti bila informasi yang harus diserapnya terlebih dahulu “dicontohkan” atau ia membayangkan orang lain tersebut melakukan hal tadi (http://www.medikaholistik.com).
Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah dan uraian di atas, dalam penelitian ini peneliti menerapkan model pembelajaran kreatif produktif untuk memecahkan permasalahan tersebut. Model pembelajaran kreatif produktif merupakan implementasi dari Metode Contextual Teaching and Learning (CTL). Hal ini senada dengan pendapat Nurhadi (2004: 148-149) kunci dalam pembelajaran kontekstual adalah; (1) real word learning; (2) mengutamakan pengalaman nyata; (3) berpikir tingkat tinggi; (4) berpusat pada siswa; (5) siswa aktif, kritis dan kreatif; (6) pengetahuan bermakna dalam kehidupan; (7) pendidikan atau education bukan pengajaran atau instruction; (8) memecahkan masalah; (9) siswa akting, guru mengarahkan, bukan guru akting, siswa menonton; (10) hasil belajar di ukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes.
Pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual memiliki ciri harus ada kerja sama, saling menunjang, gembira, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, menyenangkan, tidak membosankan, sharing dengan teman, siswa kritis dan guru kreatif. Proses kegiatan pembelajaran dapat lebih bermakna jika kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan berangkat dari pengalaman belajar siswa dan guru yaitu kegiatan siswa dan guru yang dilakukan secara bersama dalam situasi pengalaman nyata, baik pengalaman dalam kehidupan sehari-hari maupun pengalaman dalam lingkungan.
D.    TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan Kemampuan dan Hasil Belajar Siswa untuk memecah bermacam-macam Pola Kerah sesuai dengan desain di Kelas X Busana 1 SMK N 2 Lubuk Linggau melalui penggunaan Model Pembelajaran Kreatif Produktif.
Secara khusus, pada akhir siklus di dalam penelitian tindakan kelas ini, ditargetkan tecapai indikator sebagai berikut:
1.      Sejumlah 70% siswa di kelas mampu dalam menganalisa gambar desain dengan baik.
2.      Sejumlah 70% siswa di kelas mampu dalam memecah pola dasar sesuai desain dengan cepat.
3.      Sejumlah 70% siswa di kelas memiliki hasil belajar memecah pola dasar terutama memecah macam-macam pola kerah memenuhi standar kelulusan yang telah ditentukan.

E.     MANFAAT  PENELITIAN
Manfaat yang diharapkan dari penelitian yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut:
1.      Bagi siswa,  dengan diterapkannya model pembelajaran kreatif produktif siswa menjadi lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga meningkatkan kreativitas dan inovasi mereka. Selain itu pembelajaran dirasakan lebih menyenangkan karena dalam porosesnya model pembelajaran ini memberikan kesempatan yang luas bagi siswa untuk mengeksplorasikan diri.
2.      Bagi guru;
-          Melalui penelitian ini permasalahan yang dihadapi guru pada proses pembelajaran di kelas menjadi teratasi.
-          Memacu perkembangan pengetahuan tentang kegiatan pembelajaran secara signifikan bagi guru yang mana dalam penelitian juga berperan sebagai peneliti.
3.      Bagi sekolah, hasil pengembangan ini dapat dijadikan acuan dalam upaya pengadaan inovasi pembelajaran bagi para guru yang lain, juga memotivasi mereka untuk selalu melakukan inovasi dengan strategi yang bervariasi.









BAB II KAJIAN PUSTAKA

A.    KERANGKA TEORITIS
1.      Hakikat Hasil Belajar
Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dnegan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan-perubahan itu sebagai hasil belajar yang dapat ditunjukkan dengan berbagai bentuk perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, dan klemampuan serta perubahan-perubahan pada aspek lain yang ada pada setiap individu yang belajar.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam  memenuhi kebutuhan hidupnya. Sejalan dengan yang dikemukakan oleh (Slamet, 1991: 12) bahwa:
“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk  memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman itu sendiri dalam interaksi dengan lingkkungannya.”
Cronbach (Yusuf, 2003: 22), menyatakan bahwa perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Sedangkan Geoch (Yusuf 2003: 22) juga mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan dalam perpormasi sebagai hasil dari praktik-praktik.
Dari uraian di atas daoat diartikan bahwa belajar adalah suaru proses yang dilakukan individu secara bertahap dan berurutan serta berdasarkan pengalaman belajar sebelumnya, yang  memerlukan kesiapan mental yang tinggi untuk memperoleh  suatu percobaan tingkah laku.
Roestiyah (1990) menyatakan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang didapat setelah proses belajar. Sehingga dapat diartikan, hasil belajar adakah kemampuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh siswa setelah siswa tersebut menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Uno (2008) mengungkapkan bahwa hasil belajar dalam tingkatan yang sangat umum sekali dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: efektivitas, efisiensi, dan daya tarik. Efektivitas pembelajaran bisanya diukur dengan tingkat epencapaian peserta didik. Ada empat aspek penting yang dapat dipakai untuk mendeskripsikan efektivitas  pembelajaran, yaitu: kcermatan penguasaan perilaku yang dipelajari.
Daya tarik pembelajaran erat kaitannya dengan daya tarik bidang studi, dimana kualitas pembelajaran biasanya akan mempengaruhi. Itulah sebabnya pengukuran kecenderungan siswa untuk terus atau tidak terus belajar dapat dikatikan dengan proses pembelajaran itu sendiri atau dengan bidang studi.
Efesiensi pembelajaran biasanya diukur dengan rasio keefektivan dan jumlah waktu yang dipakai si pembelajar atau jumlah biaya yang dikeluarkan                       si pembelajar.
Hasil belajar peserta didik dipengaruhi oleh kemampuan peserta didik dan kualitas pengajar. Kedua factor terebut mempunyai hubungan berbanding lurus dengan hasil belajar. Artinya semakin tinggi kemampuan peserta didik dan kualitas pengajaran, maka semakin tinggi pula hasil belajarnya.
Pendapat tersebut sejalan dengan sebagaimana yang dikutip oleh Sudjana (2000) bahwa hasil belajar dipengaruhi oleh lima faktor, yaitu: bakat, waktu yang tesedia untuk belajar, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pelajaran, kualitas pelajaran, dan kemampuan.
Dalam sistem pendidikan nasionall rumusan tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar Benyamin Bloom yang secara garis besar ia membaginya menjadi tiga ranah, yaitu: ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.
Ranah kognitif bernenaan dengan hasil belajar intelektualm yang terdiri dari enam aspek, yaitu: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah, dan empat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.
Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yaitu: penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Sedangkan ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspoek psikomotorik, yaitu: gerakan reflex, kemampuan gerakan dasar, kemampuan perceptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan, dan gerakan ekspresif dan interpretative.
Untuk dapat menilai hasil belajar diperlukanlah suatu alat evaluasi yang disebut dengan tes. Tes umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan ajar sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Ada dua jenis tes yang biasa digunakan untuk menilai hsil belajar yaitu tes uraian atau essay tes dan tes objektif yang terdiri dari beberapa bentuk yaitu bentuk benar salah, pilihan ganda dengan berbagai variasi, menjodohkan, dan isian pendek atau melengkapi.

2.      Hakikat Memecah Bermacam-macam Pola Kerah
kerah adalah bagian dari sebuah desain pakaian, yang terletak pada bagian atas pakaian. Dalam menggambar busana perlu mempertimbangkan bentuk wajah dan leher. Bentuk leher tinggi sebaiknya menggunakan kerah tinggi atau menutupi sebagian leher seperti kerah kemeja, kerah mandarin dan lain-lain. Sebaliknya leher yang pendek atau rendah, pilih kerah yang sedikit sebah seperta kerah rebah, kerah setengah berdiri, kerah cape/ palerin, dan variasi kerah-kerah yang lain.
Selain berfungsi yntuk memperindah, kerah juga berfungsi memberikan kenyamanan pada pemakai seperti mempertimbangkan iklim pada suatu daerah. Kerah terdiri atas beberaa ukuran mulai dari yang kecil sampai kerah rebah yang lebar seperti kerah caoe. Kerah juga bernacam-macam bentuknya yaitu kerah yang terletak setengah berdiri dan kerah berdiri.
a.       Kerah rebah atau datar
Kerah rebah ialah kerah yang pada gambar desain jatunya melekat atau sejajar pada bahum dada atas dan punggung. Kerah rebah dapat terdiri dari dua bagian terpisah dengan bukaan tengah muka atau tengah belakang atau berdiri satu bagian penuh
b.      Kerah tegak atau kerah berdiri
Krah tegak ialah kerah yang pada gambar desain melekat dan melebar ke atas pada sekeliling leher atau hanya berupakan sudut tumpul. Kerah ini terdiri dari dua bagian atas dan bagian bawah kerah yang disebut penegak atau board dab ada yang terdiri dari satu bagian dan lapisan kerah saja.
c.       Kerah menggulung
Kerah menggulung yaitu kerah yang pertamanya tegak dari pinggiran leher kemudian sisanya dijatuhkan ke bawah di atas baju. Garis dimana kerah dimulai jatuh dinamakan garis menggulung, membalik atau disebut garis lipatan kerah. Contoh kerah menggulung atau bentuk membalik adalah kerah shawl atau kerah selendang.
Berdasarkan cara membuat polanya, macam-macam kerah dibagi atas tiga bagian yaitu:
1.      Kerah yang dibuat menggunakan pola dasar muka dan bel;akang, contoh kerah rebah dan setengah rebah
2.      Kerah yang dibuat setali atau digunting menjadi satu dengan badan, contoh kerah shawl atau kerah selendang atau kerah rever. Cirri-ciri kerah yang digunting setali atau menjadi satu dengan badan adalah pada tengah belakang terdapat jahitan.
3.      Kerah yang dibuat menggunakan lingkar leher adalahh kerah tegak, krah shanghai dan kerah kemeja.

3.      Hakikat Pembelajaran Kreatif Produktif
Pembelajaran kreatif fdan produktif menurut Asri Budiningsih (2005) adalah model pembelajaran yang dikembangkan dengan mengacu kepada berbagai pendekatan pembelajaran yang diasumsikan mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Pembelajran ini berpijak pada teori konstruktivistik, dalam pembelajran ini pada siswa diharapkan dapat mengkonstruksi sendiri konsep atau materi yang mereka dapatkan
Pendekatan pembelajaran kreatif produktif antara lain belajar aktif, kreatif, konstruktif, kolaboratif dan kooperatif. Karakteristik penting dari setiap pendekatan tersebut diintegrasikan sehingga menghasilkan satu model yang memungkinkan siswa mengembangkan siswa mengembangkan kreativitas untuk menghailkan produk yang bersumber dari pemahaman mereka terhadap konsep yang sedang dikaji.
Menurut Wardani (Pharnz’s, 2008), beberapa arakteristik model pembelajaran kreatif dan produktif adalah sebagai berikut:
1.      Keterlibatan siswa secara itnelektual dan emosionaldalam pembelajaran . keterlibatan ini difasilitasi melalui pemberian kesempatan pada siswa untuk melakukan eksplorasi dari konsep bidang ilmu yang sedang dikaji serta menafsirkan hasil eksplorasi tersebut. Siswa diberikebeabasanuntuk menjelajahi bserbagai sumber yang relefan dengan topic/ konsep masalahyang akan dikaji.
2.      Siswa didorong untuk menemukan/ mengkonstruksi sendiri konsep yang sedang dikaji melalui penafsiran yang dilakukan dengan berbagai cara seperti observasi diskusi atau percobaan. Dengan cara ini konsep tidak ditransfer oleh guru kepada siswa tetapi dibentuk sendiri oleh siswa berdasarkan pengalaman dan interaksi dengan pengalaman dan lingkungan yang terjadi ketika melakukan eksplorasi serta interpretasi.
3.      Siswa diberi kesempatan untuk bertanggung jawab menyelesaikan tugas bersama. Kesempatan ini diberikan melalui kegiatan eksplorasi, dan interpretasi
4.      Mernurut Erwin Segal pada dasarnya untuk menjadi kreatif seseorang harus bkerja keras, berdedikasi tinggi, antusiasi, serta percaya diri (black, 2003). Dalam konteks pembelajaran, kreatifitas dapat ditimbulkan dengan menciptakan suasana kelas yang memungkinkan siswa dan guru merasa bebas mengkajidan mengeksplorasi topic-topik penting kurikulum. Guru mengajukan pertanyaa yang membut ssiswa berfikir keras kemudian mengejar pendapat sisswa tentang ide-ide besar dari berbagai perspektif, guru juga mendorong siswa untuk menunjukkan atau mendemonstrasikan pemahamannya tantang topic-topik penting dalam kurikulum menurut caranya sendiri.
Pembelajran kreatif produktif berlandaskan pada prinsip dasar ketentuan siswa secara intelektualndan emosional untuk menentukan sendiri konsep yang sedang dikaji melalui penafsiran dengan berbagai cara seperti observasi, diskusi atau bercobaan.
Dengan kata lain pembelajaran kreatkif produktif adalah pembelajaran yang menggunakan pendekatan belajar aktif, kreatif, produktif, konstruktif, kolaboratif, seracara kooperatif yang mengharuskan para peserta didik mempunyai perubahan perilaku yang merupakan buah dari pembelajaran dan erubahan gtersebut terjadi karena dilakukan sesering mungkin.

B.     KERANGKA BERFIKIR
Guru merupakan pelaksana pembelajaran siswa di kelas. Berhasil tidaknya suatu pembelajaran tersebut, salah satunya dipengaruhi oleh pemilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan dipembelajarkan kepada siswa. Metode pembelajaran di sebagian sekolah masih monoton yaitu menggunakan metode ceramah atau metode konvensional. Metode pembelajaran konvensional kurang begitu menarik perhatian siswa, karena guru pemegang otoriter di kelas, sedangkan siswa mempunyai hak untuk mengemukakan pendapat dengan caranya sendiri (Marsel Ruben Payong; 1997).
 Di dalam pembelajaran berbasis kompotensi guru mempunyai peranan sebagai: 1). Korektor yaitu guru harus dapat membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang kurang baik; 2). Inspirator yaitu guru harus memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didiknya; 3). Informator yaitu guru harus memberi informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selain bahan pelajaran yang ada untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan kurikulum; 4). Organisator, dalam hal ini guru harus mengatur kegiatan pembelajaran sesuai jadwal yang berlaku; 5). Motivator yaitu guru harus dapat memberi motivasi siswa yang.

Guru selaku tenaga pendidik sudah selayaknya mampu menganalisa kebutuhan belajar siswa, baik segi isi bahan ajar, metode yang digunakan, perangkat pembelajaran serta pemberian motifasi secara berkesinambungan. Jika hal ini dilakukan tentu saja hasil belajar siswa dapat dicapai sesuai dengan tujuan pembelajaran yang di inginkan.
Hasil pembelajaran Memecah Macam-macam Pola Kerah sesuai dengan Desain di kelas X Busana 1 SMK N 2 Lubuk Linggau cenderung masih kurang maksimal. Selama ini peneliti yang juga bertindak sebagai guru kelas masih menerapkan model pembelajaran konvensional.
Berdasarkan uraian pada landasan teoritis mengenai model pembelajran Kreatif Produktif serta pendapat beberapa ahli mengenai kelebihan dari model pembelajaran tersebut, peneliti menduga penerapan model pembelajaran Kreatif Produktif akan meningkatan hasil belajar tersebut.

C.    HIPOTESIS TINDAKAN
Melalui kegiatan belajar mengajar yang menarik di mana guru menerapkan pembelajaran kontekstual menggunakan model pembelajaran kreatif dan produktif pada pembelajaran Memecah Macam-macam Pola Kerah sesuai dengan Desain, minat dan keseriusan siswa untuk belajar akan meningkat, begitu pula degan hasil pembelajaran pada materi tersebut.








BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A.    TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini akan peneliti lakukan di kelas X Busana 1 SMK N 2 Lubuk Linggau. Penelitian akan dilakukan pada minggu ke empat pada bulan Juli 2012 sampai dengan September  2012.
B.     SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian dalam Penelitian Tindakan Kelas yang akan peneliti lakukan adalah siswa kelas X Busana 1, di SMK N 2 Lubuk Linggau dengan jumlah responden (siswa) sebanyak 14 orang siswa.
C.    PROSEDUR TINDAKAN SETIAP SIKLUS
Penelitian dilakukan dalam dua siklus dengan masing-masing siklus sebanyak 2 pertemuan. Prosedur tindakan penelitian pada setiap siklusnya dilakukan dengan menggunakan teknik siklus model Kemmis dan Mc Taggarndari Deakin University. Menggunakan metode ini tahapan-tahapan yang dilakukan pada setiap siklusnya adalah sebagai berikut:
1.      Perencanaan Tindakan
Ø  Menganalisis materi pelajaran
Ø  Menyiapkan lembar pengamatan aktivitas belajar
Ø  Menyiapkan rencana pembelajaran
Ø  Mengembangkan alat-alat bantu pengajaran dalam rangka optimalisasi proses belajar mengajar.

2.      Tindakan Pelaksanaan
-          Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dan setiap siklus melewati dua kali tatap muka
-          Langkah-langkah tindakan pembelajaran pada setiap siklus dilakukan sesuai dengan RPP yang telah dipersiapkan, yaitu RPP yang menerapkan metode pembelajaran baru yang akan di teliti, dalam hal ini peneliti menerapkan model pembelajaran kreatif produktif .

3.      Pengamatan
-          Setelah pelaksanaan tindakan pada siklus pertama, peneliti melakukan pengamatan terhadap bias dari pelaksanaan tindakan setiap siklus.  pengamatan dilakukan sesuai dengan teknik pengumpul data dan analisis data.
-          Pengamatan setiap siklus dilakukan dengan cara yang sama.

4.      Refleksi
-          Setelah dilakukan pengamatan terhadap data hasil tindakan di kelas, kemudian dilakukan pengkajian terhadap hasil pengamatan tersebut. Melalui refleksi ini kemudian ditentukan tindakan apa yang akan dilakukan pada siklus ke dua
-          Refleksi setiap siklus dilakukan dengan cara yang sama
-          Setelah proses refleksi, masuklah pada siklus kedua
Begitulah tindakan yang dilakukan pada setiap siklusnya sampai pada batas siklus yang ditentukan. Pada penelitian ini peneliti merencanakan sebanyak dua siklus, sehingga setelah refleksi pada siklus ke dua telah didapatkan kesimpulan dari penelitian ini.
D.    TEKNIK DAN ALAT PENGUMPUL DATA
1.      Teknik pengumpul data
Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menggunakan tes tertulis untuk mengevaluasi pencapaian aspek kognitif. Tes tertulis dilakukan dengan memberikan soal Essay kepada siswa Untuk mengevaluasi pencapaian aspek afektif dan psikomotorik  menggunakan lembar pengamatan.

2.      Alat pengumpul data
Alat pengumpul data yang peneliti gunakan secara umum terbagi atas tiga yaitu:
a.       Pengamatan hasil belajar aspek kognitif, yaitu dengan memberikan soal essay, data terlampir pada RPP.
b.      Pengamatan hail belajar aspek afektif, menggunakan lembar observasi. Lembar obeservasi telah terlampir pada RPP.
c.       Hasil belajar aspek psikomotorik, menggunakan lembar observasi. Lembar obeservasi telah terlampir pada RPP.

E.     TEKNIK ANALISIS DATA
Data hasil penelitian ini dianalisis secara sederhana dengan menggunakan uji statistic sederhana sebagai berikut:
-          Tabulasi data sesuai dengan table hasil evaluasi yang terlampir dalam RPP
-          Lakukan analisis sederhana dengan menghitung nilai rata-rata setiap siswa
-          Lakukan analisis terhadap nilai tersebut dengan membandingkan terhadai nilai kelulusan minimum.
-          Simpulkan tingkat keberhasilan tindakan yang telah dilakukan dengan mengubah dalam betuk persen keberhasilan sesuai dengan indicator sebagai berikut:
-          70% siswa di kelas mampu dalam menganalisa gambar desain dengan baik
-          70% siswa di kelas mampu dalam memecah pola dasar sesuai desain dengan cepat.
-          70% siswa di kelas memiliki hasil belajar memecah pola dasar terutama memecah macam-macam pola kerah memenuhi standar kelulusan yang telah ditentukan.



F.     JADWAL PENELITIAN
NO
KEGIATAN
BULAN
Ket
JULI
AGUSTUS
SEPTEMBER
OKTOBER
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Penyusunan proposal




































2
Pelaksanaan siklus 1


















-      Perencanaan


















-      Pelaksanaan


















-      Observasi dan evaluasi




































3
Pelaksanaan siklus 2


















-      Perencanaan


















-      Pelaksanaan


















-      Observasi dan evaluasi
































DAFTAR PUSTAKA

Tim pariwisata SMK (2010), Mengola makanan kondimental
Bahan ajar profesionalisme guru (2011), pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG)rayon 110 UPI
Baham ajar tata boga SMK (2011), pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG) rayon 110 UPI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar