
BAB I PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Pendidikan
memegang peran penting dalam membentuk karakter suatu bangsa. Kemajuan
pendidikan di suatu Negara selalu berkorelasi positif terhadap kemajuan
peradaban bangsa tersebut.
Melalui
kegiatan pembelajaran di sekolah, diharapkan tercipta kesempatan yang luas bagi
setiap individu untuk mengembangkan dirinya secara optimal, sesuai potensi yang
dimiliki dan sesuai pula dengan situasi lingkungan yang tersedia sesuai dengan
rumusan tujuan pendidikan nasional.
UU
Sisdiknas tahun 2003 Bab II pasal 3 menyebutkan bahwa Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang
MahaEsa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Masih banyaknya jumlah
pengangguran dari golongan usia produktif di sekitar kehidupan kita merupakan
indikasi bahawa proses pendidikan belum berjalan dengan baik. Padahal salah
satu indikator keberhasilan pendidikan nasional adalah terciptanya individu
yang mandiri.
Salah satu respon
pemerintah terhadap kondisi ini adalah dengan menyelenggarakan pendidikan
kejuruan di tingkat Sekolah Menengah Atas, yaitu SMK. Tujuan SMK adalah
untuk mempersiapkan peserta didik
menguasai keterampilan tententu untuk memasuki dunia kerja dan sekaligus
memberikan bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
(1)
SMK
mempunyai tiga jenis mata pelajaran
yang digolongkan menjadi mata pelajaran
Normatif, Adaptif dan Produktif. Dari ketiga golongan mata pelajaran ini, golongan mata pelajaran produktif merupakan mata pelajaran yang penting. Siswa dituntut untuk
mempunyai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang merupakan bekal bagi
para siswa nantinya untuk dapat diterapkan dan dikembangkan dalam dunia kerja.
Mata pelajaran Produktif dikembangkan sesuai dengan program keahlian yang
diselenggarakan, Begitu pula dengan SMK Negeri 1 Samadua kabupaten Aceh Selatan
tempat penulis akan melakukan penelitian.
Hasil
observasi awal peneliti, salah satu mata pelajaran produktif yang mengalami
masalah pada program keahlian Teknik Gambar Bangunan adalah Rencana Anggaran
Biaya (RAB). RAB merupakan mata pelajaran
untuk mengetahui tentang cara menghitung biaya dan penyelenggaraan kontruksi
bangunan dengan baik. Melalui pelajaran
RAB diharapkan siswa
dapat merencanakan anggaran dan kebutuhan
untuk suatu bangunan.
Berdasarkan
Hasil Ujian Harian dan mata pelajaran
RAB pada saat observasi awal di SMK Negeri 1 Samadua, nilai RAB yang diperoleh siswa pada tahun
ajaran 2012/2013 semester ganjil di kelas XI Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan
dapat dilihat pada tabel 1.1 di bawah.
Informasi
lain yang peneliti peroleh dari observasi di kelas ini adalah partisipasi
belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran cenderung rendah. Hanya sedikit siswa
merespon pembelajaran, sebagian besar di antara mereka terlihat pasif.
Rendahnya
hasil dan partisipasi belajar siswa bisa saja disebabkan oleh beberapa faktor.
faktor internal seperti kemampuan dasar akademik dan minat belajar siswa. Faktor eksternal siswa
seperti model pembelajaran yang digunakan oleh guru di dalam pembelajaran.
(2)
Tabel 1.1 Hasil
UJian Harian Rencana Anggaran Biaya Kelas XI TGB Tahun Ajaran 2012/2013
Semester Ganjil
|
No
|
Nama Siswa
|
KKM
|
Nilai
|
Remedial
|
Keterangan
|
|
1
|
Agus Riani
|
70
|
25
|
70
|
Lulus
setelah remedial
|
|
2
|
Arfiandi
|
70
|
53
|
70
|
Lulus
setelah remedial
|
|
3
|
Desria Saputri
|
70
|
30
|
70
|
Lulus
setelah remedial
|
|
4
|
Fajar Al K
|
70
|
80
|
-
|
Lulus
|
|
5
|
Herliza
|
70
|
47
|
70
|
Lulus
setelah remedial
|
|
6
|
Intan Masniar
|
70
|
19
|
70
|
Lulus
setelah remedial
|
|
7
|
Iqbal Khusharyadi
|
70
|
20
|
70
|
Lulus
setelah remedial
|
|
8
|
Jerry Pratama
|
70
|
42
|
70
|
Lulus
setelah remedial
|
|
9
|
Khairuman
|
70
|
10
|
70
|
Lulus
setelah remedial
|
|
10
|
Marza
|
70
|
10
|
70
|
Lulus
setelah remedial
|
|
11
|
Mona Ulyanti
|
70
|
38
|
70
|
Lulus
setelah remedial
|
|
12
|
Rio Taupik Saldi
|
70
|
60
|
70
|
Lulus
setelah remedial
|
|
Nilai
tertinggi
|
|
80
|
|
|
|
|
Nilai terendah
|
|
10
|
|
|
|
|
Nilai
rata-rata kelas
|
|
36,17
|
70,83
|
|
|
Sumber : Daftar Nilai Harian Guru Mata Pelajaran RAB
Kelas XI TGB SMK N 1 Samadua
Fakta
lain dari observasi awal yang penulis lakukan, pembelajaran yang dilaksanakan oleh
guru mata pelajaran masih menganut paham lama dimana guru terlihat mendominasi
kegiatan pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran juga masih minimum, guru
hanya berceramah dan menuliskan materi pelajaran di papan tulis. padahal berdasarkan hasil penelitian, diyakini bahwa
suatu materi pembelajaran harus didesain sedemikian rupa sehingga mengakomodasi
tipe pembelajar, dan gaya belajar, bukan hanya menunjukkan gaya mengajar
instrukturnya.
(3)
Jhon
Dewey dalam (Miftahul Huda, 2011), pendidikan memiliki tanggung jawab untuk
meningkatkan minat siswa, memperluas dan mengembangkan horizon keilmuan mereka, dan membantu mereka agar mampu menjawab
tantangan dan gagasan baru di masa mendatang.
Dengan
demikian, pendidikan, khususnya sekolah, harus memiliki sistem pembelajaran
yang menekankan proses dinamis yang didasarkan pada upaya meningkatkan keingintahuan siswa tentang dunia. Pendidikan harus
mendesai pembelajaran yang responsive
dan berpusat pada siswa agar minat dan aktivitas sosial mereka terus meningkat
sehingga tercipta hasil belajar yang positif baik secara kuantitatif maupun
kualitatif dari dalam diri siswa.
Berdasarkan
uraian di atas, juga analisis penulis terhadap
permasalahan di kelas XI program keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 1
Samadua, Sebagai
alternatif pemecahan masalah di kelas tersebut, penulis merencanakan untuk
melakukan pernelitian tindakan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Student Teams Learnig dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Penelitian
akan penulis rancang dengan berfokus pada salah satu model pembelajaran Student Teams Learning yaitu model
pembelajaran kooperatif tipe Student
Teams Achievement Divisions (selanjutnya penulis sebut Model Pembelajaran
STAD) dengan pertimbangan berikut:
1) Miftahul Huda (2011), pada tahun
1981, Jhonson dan beberapa rekannya mempublikasikan hasil meta-analisis mereka
terhadap 122 studi yang meneliti pengaruh-pengaruh pembelajaran kooperatif,
kompetitif, dan individualistic terhadap prestasi belajar. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat memberikan pencapaian dan
produktiivitas yang lebih tinggi seperti semangat untuk belajar.
(4)
2) Model pembelajaran STAD
mengutamakan kerjasama inter-group,
nilai kelompok sangat ditentukan oleh kemampuan setiap individu memecahkan
masalah sehingga setiap individu di dalam kelompok harus bekerjasama, saling
membantu, dan bertukar pengetahuan sebelum akhirnya mereka diuji secara
individual. Kondisi ini sangat baik untuk membangun karakter positif dalam diri
siswa untuk mengeksplorasikan diri melalui komunikasi sosial yang positif.
Dengan demikian, sangat memungkinkan bahwa tidak hanya hasil belajar siswa yang
meningkat, tetapi juga partisipasi belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran.
B.
IDENTIFIKASI
MASALAH
Dari latar belakang
masalah di atas, dapat diidentifikasi masalah-masalah yang terkait dengan
penelitian ini, yaitu :
1. Partisipasi
belajar siswa di dalam pembelajaran rendah
2. Hasil
belajar RAB rendah
3. Guru
mata pelajaran masih memberlakukan pembelajaran konvensional
4. Media
pembelajaran yang digunakan guru mata pelajaran tidak mampu menumbuhkan minat
belajar siswa.
C.
PEMBATASAN
MASALAH
Agar
penelitian ini tercapai sesuai dengan tujuan penelitian, serta kondisi keterbatasan
waktu dan kemampuan penulis, penelitian ini dibatasi pada lingkup penelitian:
1. Penelitian
di lakukan di kelas XI program keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 1
Samadua
(5)
2. Penelitian
dilakukan pada mata pelajaran
Rencana Anggaran Biaya, Kompetensi Dasar menghitung volume/ kubikasi pekerjaan pada
konstruksi bangunan sederhana.
3. Penelitian
dilakukan dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas, dengan menerapkan
pembelajaran koperatif tipe STAD.
4. Penelitian
fokus pada bagaimana pengaruh pembelajaran STAD terhadap partisipasi dan hasil
belajar siswa di kelas penelitian sebelum dan sesudah dilakukan penelitian
tindakan.
D.
RUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan latar
belakang masalah di atas, teridentifikasi bahwa permasalahan yang dihadapi pada
pembelajaran RAB adalah rendahnya partisipasi dan hasil belajar siswa. Penulis menilai perlu diupayakan dengan
pembaharuan model pembelajaran yang sesuai untuk menyelesaikan permasalahan
tersebut agar nantinya siswa memiliki kompetensi sesuai dengan yang diharapkan.
Berdasarkan uraian
tersebut, maka permasalahan yang akan diselesaikan dalam penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana
menerapkan model pembelajaran STAD untuk meningkatkan partisipasi dan hasil
belajar siswa pada mata pelajaran RAB, Kompetensi Dasar menghitung volume/
kubikasi pekerjaan pada konstruksi bangunan sederhana..
2. Bagaimana
memilih media pembelajaran yang mampu menumbuhkan minat belajar belajar siswa.
(6)
3. Bagaimana
pengaruh model pembelajaran STAD terhadap partisipasi dan hasil belajar siswa
pada mata pelajaran RAB, Kompetensi Dasar menghitung volume/ kubikasi pekerjaan
pada konstruksi bangunan sederhana.
E.
TUJUAN
PENELITIAN
Secara umum pelaksanaan
penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas proses pembelajaran RAB
di kelas XI Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan SMK Neger1 1 Samadua.
Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model
pembelajaran STAD terhadap partisipasi dan hasil belajar siswa.
F.
MANFAAT
PENELITIAN
Secara Teoritis penelitian ini diharapkkan dapat memberikan
manfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan tentang pendekatan pembelajaran
yang berkaitan dengan hasil belajar RAB dengan penerapan metode pembelajaran
STAD. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan juga bermanfaat dan
memperkaya sumber kepustakaan dan dapat disajikan sebagai bahan acuan dan
penelitian lebih lanjut di masa yang akan datang.
Secara praktis hasil
penelitian ini diharapkan bermanfaat:
1. Bagi
guru, yaitu dalam bentuk tindakan nyata membantu usahanya dalam meningkatkan
partisipasi belajar siswa dalam pembelajaran di kelas sehingga akan tercapai
kualitas proses secara optimal pada gilirannya dapat memperoleh hasil belajar
lebih baik.
2. Bagi
siswa, yaitu terbimbing untuk aktif berpartisipasi dalam pembelajaran serta
memperoleh hasil belajar lebih baik.
Sekolah dapat menggunakan hasil penelitian ini
sebagai referensi yang dapat digunakan oleh guru mata pelajaran lain.
(7)
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. KAJIAN TEORI
1.
Hakikat Hasil Belajar Rencana
Anggaran Biaya (RAB)
Sudjana (2009) ada empat komponen utama proses belajar mengajar, yakni
tujuan, bahan, metode dan alat, dan penilaian. Tujuan sebagai arah dari proses
belajar mengajar pada hakikatnya adalah rumusan tingkah laku yang diharapkan
dapat dikuasai siswa setelah menerima atau menempuh pengalaman belajarnya.
Bahan adalah seperangkat pengetahuan ilmiah yang dijabarkan dari kurikulum
untuk disampaikan atau dibahas dalam proses belajar mengajar agar sampai kepada tujuan yang telah ditetapkan. Metode
dan alat adalah cara atau teknik yang digunakan dalam mencapai tujuan.
Sedangkan penilaian adalah upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana
tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai atau tidak yang kemudian
dideskripsikan sebagai hasil belajar.
Menurut Djamarah dalam
(Jayanti, 2012) hasil belajar adalah
hasil yang diperoleh siswa dari aktivitas belajarnya dalam bentuk skor/nilai
yang diperoleh dari hasil tes perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat
diidentifikasikan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, pemahaman,
sikap, dan tingkah laku,
kecakapan, keterampilan, dan kemampuan, serta perubahan aspek – aspek yang lain
yang ada pada individu yang belajar. Hasil belajar biasanya dinyatakan
dalam bentuk skor, yang didapat setelah siswa mengikuti tes hasil belajar yang
dilakukan setelah program pengajaran selesai.
Hal ini sejalan dengan pendapat Sudjana (1988) yang menyatakan bahwa
hasil belajar adalah penilaian hasil usaha dan kegiatan yang dinyatakan dalam
bentuk angka atau huruf yang mencerminkan hasil yang dicapai oleh seseorang
dalam jangka waktu tertentu. Hasil belajar dapat dilihat dari hasil nilai
ulangan harian (formatif), nilai
ulangan tengah (subsumatif) dan nilai
ulangan semester (sumatif).
(8)
Menurut Sudjana dalam Kunandar (2008) hasil belajar adalah suatu akibat
dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran, yaitu berupa tes yang
disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan.
Sedangkan Nasution dalam Kunandar (2008) berpendapat bahwa hasil belajar adalah
suatu perubahan pada individu yang belajar, tidak hanya mengenai pengetahuan,
tetapi juga membentuk kecakapan dan penghayatan dalam diri pribadi individu
yang belajar. Sukardy (1988) menyatakan bahwa hasil belajar adalah hasil yang
dicapai dari proses belajar. Kegiatan yang dilakukan siswa dan guru dalam
mencapai tujuan pembelajaran merupakan proses pembelajaran. Sedangkan hasil
belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya.
Howard Kingsley (dalam Sudjana 2009) membagi tiga macam hasil belajar
yakni, (a) keterampilan dan kebiasaan (b) pengetahuan dan pengertian (c) sikap
dan cita-cita. Sedangkan Gagne membagi lima kategori hasil belajar yakni (a)
informasi verbal (b) keterampilan intelektual (c) strategi kognitif (d)
kognitif, dan (e) ketarampilan motoris.
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan, baik tujuan kurikuler
maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari
Benyamin Bloom yang secara garis besar membagina menjadi tiga ranah, yakni
ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris.
(9)
Dari uraian pendapat ahli di atas diketahui bahwa pembelajaran pada
hakikatnya adalah usaha yang dilakukan untuk memimbing individu untuk mencapai rumusan
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan untuk kemudian diorientasikan
sebagai hasil belajar. Di dalam
penerapannya, rumusan tujuan pembelajaran sistem pendidikan nasional, baik
tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, hasil belajar diuraikan atas tiga
aspek yakni aspek kognitif yang
berkenaan dengan hasil belajar intelektual. Aspek
afektif yang berkenaan dengan sikap. Dan aspek psikomotoris yang berkenaan dengan hasil belajar keterampilan
dan kemampuan bertindak.
Bachtiar Ibrahim (2008) Rencana Anggaran Biaya suatu bangunan atau proyek
adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah, serta
biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek
tersebut.
Mata pelajaran RAB
adalah kumpulan bahan kerja dan pelajaran yang mengungkapkan tentang tata cara
dan penggambaran bagian kontruksi bangunan secara utuh serta cara perhitungan
biaya dan penyelenggaraan kontruksi bangunan (Depdikbud, 1993). Mata pelajaran ini berfungsi sebagai:
a.
Mata pelajaran
kejuruan yang membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan dalam
penggambaran dan perencanaan biaya serta pelaksanaan pekerjaan bangunan gedung.
b.
Dasar pengembangan diri untuk mengikuti kemajuan ilmu
dan teknologi dalam bidang perencana bentuk, biaya dan pelaksanaan pekerjaan
bangunan gedung.
(10)
Dari uraian di atas dapat
diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar rencana anggaran
biaya adalah suatu hasil dari kegiatan siswa mempelajari tentang merencanakan suatu
bangunan dalam bentuk dan faedah dalam penggunaannya, serta besar biaya yang
dibutuhkan dan susunan-susunan
pelaksanaan dalam bidang administrasi maupun pelaksanaan kerja dalam bidang
teknik yang dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf sesuai dengan indikator
pemebelajaran yang ditetapkan. Seperti:
1.
Siswa mampu memahami penjelasan mengenai gambar dan
bestek secara menyeluruh yang dirangkaikan dengan peninjauan lokasi pekerjaan.
2.
Siswa mampu menginterpretasikan gambar desain secara
tepat, sehingga dasar-dasar yang terkandung dalam gambar dapat dikomunikasikan
dan dihubungkan menjadi wujud suatu bangunan.
3.
Siswa mampu menghitung volume setiap butir pekerjaan
secara rinci dan memilahnya pada pos-pos pekerjaan secara berurutan.
4.
Siswa mampu menentukan harga satuan bahan dan upah,
menghitung harga satuan pekerjaan berdasarkan daftar analisa, dan menetapkan
besarnya rencana anggaran biaya.
5.
Siswa mampu membuat grafik dan jadwal pelaksanaan
pekerjaan.
2.
Hakikat Partisipasi
Belajar Siswa
a.
Pengertian Partisipasi
Saca Firmansyah (2008), dalam http://www.scribd.com/doc/36250559/4/
Indikator-Partisipasi-Siswa-Dalam-Pembelajaran, menyatakan Partisipasi bisa
diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam interaksi sosial
dalam situasi tertentu. Dengan pengertian itu, seseorang bisa berpartisipasi
bila ia menemukan dirinya dengan atau dalam kelompok, melalui berbagai proses
dengan orang lain dalam hal nilai, tradisi, perasaan, kesetiaan, kepatuhan dan
tanggungjawab bersama.
(11)
Sementara itu, Menurut Keit Davis dalam Sastroputro (1989) menyatakan
bahwa partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosi seseorang dalam situasi
kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam
usaha mencapai tujuan serta tanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan. Sedangkan
George Terry dalam Winardi (2002) menyatakan bahwa partisipasi adalah turut
sertanya seseorang baik secara mental maupun emosional untuk memberikan sumbangan-sumbangan
pada proses pembuatan keputusan, terutama mengenai persoalan dimana
keterlibatan pribadi orang yang bersangkutan melaksanakan tanggung jawabnya
untuk melakukan hal tersebut. Partisipasi siswa dalam pembelajaran sering juga
diartikan sebagai keterlibatan siswa dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi pembelajaran.
Jadi partisipasi yang peneliti maksud adalah partisipasi siswa yang
merupakan wujud tingkah laku siswa secara nyata dalam kegiatan pembelajaran
yang merupakan totalitas dari suatu keterlibatan mental dan emosional siswa
sehingga mendorong mereka untuk memberikan kontribusi dan bertanggung jawab
terhadap pencapaian suatu tujuan yaitu tercapainya prestasi belajar yang
memuaskan.
b.
Jenis-jenis Partisipasi
Untuk meperoleh gambaran
yang jelas tentang partisipasi, disini akan dipaparkan mengenai jenis-jenis
partisipasi menurut Keit Davis dalam Sastroputro (1989). Jenis-jenis
partisipasi tersebut adalah:
(12)
a.
Partisipasi berupa pikiran (psychological
participation) merupakan jenis keikutsertaan secara aktif dengan
mengerahkan pikiran dalam suatu rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan
tertentu.
b. Partisipasi
yang berupa tenaga (physical Participation) adalah partisipasi dari
individu atau kelompok dengan tenaga yang dimilikinya, melibatkan diri dalam
suatu aktifitas dengan maksud tertentu.
c.
Partisipasi yang berupa tenaga dan pikiran (physical
and psychological participation). Partisipasi ini sifatnya lebih luas lagi
disamping terjadi karena orang atau kelompok tidak bisa terjun langsung dari
kegiatan tersebut.
d.
Partisipasi yang berupa keahlian (participation with
skill) merupakan bentuk partisipasi dari orang atau kelompok yang mempunyai
keahlian khusus, yang biasanya juga berlatar belakang pendidikan baik formal
maupun non formal yang menunjang keahliannya.
e.
Partisipasi yang berupa barang (material
participation), partisipasi dari orang atau kelompok dengan memberikan
barang yang dimilikinya untuk membantu pelaksanaan kegiatan tersebut.
f.
Partisipasi yang berupa uang (money participation),
partisipasi ini hanya memberikan sumbangan uang kepada kegiatan.
c. Faktor-faktor yang Menyebabkan Partisipasi
Menurut Sudjana dalam
Hayati dalam http://www.scribd.com /doc/36250559/4/Indikator-Partisipasi-Siswa-Dalam-Pembelajaran,
partisipasi siswa di dalam pembelajaran merupakan salah satu bentuk
keterlibatan mental dan emosional. Disamping itu, partisipasi merupakan salah
satu bentuk tingkah laku yang ditentukan oleh lima faktor, antara lain:
(13)
a.
Pengetahuan/kognitif, barupa Pengetahuan tentang tema,
fakta, aturan, dan ketrampilan membuat translation.
b.
Kondisi situasional, seperti lingkungan fisik,
lingkungan sosial, psikososial dan faktor-faktor sosial.
c. Kebiasaan
sosial, seperti kebiasaan menetap dan lingkungan.
d.
Kebutuhan, meliputi kebutuhan Approach (mendekatkan
diri), Avoid (menghindari), kebutuhan individual.
e.
Sikap, meliputi pandangan/perasaan, kesediaan bereaksi,
interaksi sosial, minat dan perhatian.
d.
Prasyarat
Terjadinya Partisipasi
Berdasarkan pendapat Keit
Davis dan Newstrom dalam Hayati (2001) dalam http://www.scribd.com /doc/36250559/4/Indikator-Partisipasi-Siswa-Dalam-Pembelajaran,
bahwa ada beberapa prasayarat terjadinya partisipasi , yaitu antara lain:
a. Waktu yang cukup untuk berpartisipasi Maksudnya adalah
harus ada waktu yang cukup untuk berpartisipasi sebelum diperlukan tindakan,
sehingga partisipaisi hampir tidak tepat apabila dalamsituasi darurat.
b.
Keuntungannya lebih besar dari kerugian. Artinya
kemungkinan mendapat keuntungan seyogyanya lebih besar daripada kerugian yang
diperoleh.
c.
Relevan dengan kepentingan siswa. Artinya bidang
garapan partisipasi haruslah relevan dan menarik bagi siswa.
(14)
d.
Kemampuan siswa. Artinya siswa hendaknya mempunyai
pengetahuan seperti kecerdasan dan pengetahuan untuk berpartisipasi.
e.
Kemampuan berkomunikasi timbal balik. Maksudnya para
siswa haruslah mampu berkomunikasi timbal balik untuk berbicara dengan bahasa
yang benar dengan orang lain.
f.
Tidak timbul perasaan terancam bagi kedua belah pihak
Artinya masing-masing pihak seharusnya tidak merasa bahwa posisinya terancam
oleh partisipasi.
g.
Masih dalam bidang keleluasan. Maksudnya partisipasi
untuk meneruskan arah tindakan dalam pembelajaran yang hanya boleh berlangsung
dalam bidang keleluasaan belajar dengan batasan-batasan tertentu untuk menjaga
kesatuan bagi keseluruhan.
Pada hakekatnya belajar
merupakan interaksi antara siswa dengan lingkungannya. Oleh karena itu, untuk
mencapai hasil belajar yang optimal perlu keterlibatan atau partisipasi yang
tinggi dari siswa dalam pembelajaran. Keterlibatan siswa merupakan hal yang
sangat penting dan menentukan keberhasilan pembelajaran.
Dalam kegiatan belajar,
siswa dituntut secara aktif untuk ikut berpartisipasi dalam pembelajaran.
Karena dengan demikian siswalah yang akan membuat suatu pembelajaran dikatakan
sukses, efektif dan efesien. Siswa yang aktif dalam pembelajaran akan terlihat
pada baik dan buruknya prestasi yang diperoleh.
Sudjana dalam Mulyasa
(2004:156) dalam http://www.scribd.com /doc/36250559/4/Indikator-Partisipasi-Siswa-Dalam-Pembelajaran
mengemuka-kan syarat kelas yang efektif adalah adanya keterlibatan, tanggung
jawab dan umpan balik dari siswa. Keterlibatan siswa merupakan syarat pertama
dalam kegiatan belajar di kelas. Untuk terjadinya keterlibatan itu siswa harus
memahami dan memiliki tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan belajar atau
pembelajaran. Keterlibatan itupun harus memiliki arti penting sebagai bagian
dari dirinya dan perlu diarahkan secara baik oleh sumber belajar.
(15)
Untuk mendorong
partisipasi siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain memberikan
pertanyaan dan menanggapi respon siswa secara positif, menggunakan pengalaman
berstruktur, dan menggunakan metode yang bevariasi yang lebih melibatkan siswa.
Siswa sebagai subjek
sekaligus objek dalam pembelajaran. Sebagai subjek siswa adalah individu yang melakukan
proses belajar mengajar. Sebagai objek karena kegiatan pembelajaran diharapkaan
dapat mencapai perubahan perilaku pada diri subjek belajar. Untuk itu, dari
pihak siswa diperlukan partisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Partisipasi aktif subjek
belajar dalam proses pembelajaran antara lain dipengaruhi faktor kemampuan yang
dimiliki hubungannya dengan materi yang akan dipelajari.
e. Indikator
Partisipasi Siswa Dalam Pembelajaran
Indikator pertisipasi belajar siswa diantaranya adalah:
a. Bertanya
b. Menjawab pertanyaan
c. Mengerjakan tugas
d. Mengemukakan ide
e. Merespon gagasan orang lain
f. Berdiskusi (pembelajaran STAD)
(16)
3.
Hakikat
Model Pembelajaran Kooperatif STAD
3.1 Hakikat Pembelajaran Kooperatif
Selama dua dekade sebelum Perang Dunia II, penelitian-penelitian tentang
individu dalam kelompok memperlihatkan pada kita bahwa perilaku manusia pada
umumnya akan berubah ketika mereka membentuk kelompok atau bergabung dalam
kelompok-kelompok tertentu. Allport (dalam Miftahul Huda, 2011), misalnya
menemukan bahwa ada perbedaan yang menonjol dalam hal kuantitas dan kualitas
kerja individu ketika mereka mau membuka diri untuk saling mendengar dan peduli
pada hasil kerjanya satu sama lain. Ia juga mencatat bahwa sebuah kelompok yang
tengah bekerja sama cenderung berfikir lebih efisien daripada satu anggota terbaik
kelompok tersebut yang bekerja sendiri. Singkatnya, individu-individu yang
berkelompok dapat bekerja lebih efektif daripada individu-individu yang bekerja
sendirian.
Artzt & Newmen dalam (Trianto, 2011) menyatakan bahwa dalam belajar
kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan
tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, setiap anggota
kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan kelompoknya.
Slavin dalam (Trianto, 2011) dalam belajar koopeartif, siswa dibentuk dalam
kelompok-kelompok yang terdiri dari 4-5 orang untuk bekerja sama dalam
menguasai materi yang diberikan guru. Pembagian kelompok dalam pembelajaran
kooperatif, setiap anggota kelompok diatur agar heterogen dalam tingkat
kemampuan, jenis kelamin, dan suku/ras.
(17)
Trianto (2011) pembelajaran kooperatif bernaung dalam teori
konstruktivis. Pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah
menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan
temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu
memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi, hakikat sosial dan penggunaan
kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif.
Menurut
ibrahim dkk (2000) pembelajaran koopertif adalah unik, karena pembelajaran
kooperatif suatu struktur tugas dan penghargaan yang berbeda dalam mengupayakan
pembelajaran siswa. Struktur tugas itu menghendaki siswa untuk bekerja bersama
dalam kelompok-kelompok kecil. Struktur penghargaan itu mengakui upaya kolektif
dan individual. Model kooperatif memfukuskan pada pengaruh-pengaruh pengajaran
selain pembelajaran akademik, khususnya menumbuhkan penerimaan antara kelompok
serta keterampilan social dan kelompok
a.
Unsur-Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Menurut
Lungren dalam (Ratumanan, 2002), dalam Trianto (2011), unsur-unsur dasar yang
perlu untuk ditanamkan kepada siswa agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan
lebih efektif lagi adalah:
1)
Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam” atau
“berenang” bersama;
2)
Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap setiap siswa lain dalam
kelompoknya, disamping tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, dalam
mempelajari materi yang dihadapi;
(18)
3)
Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang
sama;
4)
Para siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama besarnya
di antara para anggota kelompok;
5)
Para siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut
berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompoknya;
6)
Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan
bekerja sama selama belajar; dan
7)
Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi
yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
b.
Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
Apabila
diperhatikan secara seksama, pembelajran kooperatif ini memiliki cirri-ciri
tertentu dibandingkan dengan ppembelajaran model lainnya. Arends dalam Trianto
(2012) menyatakan bahwa pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Siswa bekerja dalam kelompok
secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar
2) Kelompok dibentuk dari siswa yang
mempunyai kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
3) Bia memungkinkan, anggota
kelompok berasal dari ras, budaya, suku, dan jenis kelamin yang beragam; dan
4) Penghargaan lebih berorientasi
kepada kelompok daripada individu.
(19)
c.
Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
|
Fase ke-
|
Indikator
|
Kegiatan Guru
|
|
1
|
Menyampaikan tujuan dan
motivasi siswa
|
Guru menyampaikan semua tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
belajar
|
|
2
|
Menyajikan informasi
|
Guru menyajikan informasi
kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau lewat bacaan
|
|
3
|
Mengorganisasikan siswa kedalam
kelompok – kelompok belajar
|
Guru menjelaskan kepada siswa
bagaimana membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar
melakukan transisi secara efisien
|
|
4
|
Membimbing kelompok bekerja dan
belajar
|
Guru membimbing kelompok –
kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
|
|
5
|
Evaluasi
|
Guru mengevaluasi hasil belajar
tentang materi yang telah dipelajariatau masing – masing kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya
|
|
6
|
Memberikan penghargaan
|
Guru mencari cara untuk
menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok
|
Tabel 2.1. Langkah pembelajaran kooperatif
(Ibrahim dkk, dalam Trianto (2011)
d.
Variasi Model Pembelajaran Kooperatif
Adapun
beberapa variasi dalam model pembelajaran cooperative learning dalam Trianto
(2011) adalah sebagai berikut:
1) STAD ( Students Team Achievement
Divisions)
2) Jigsaw
3) NHT ( Numberid Head Togedher)
4) TPS (Think Pair Share)
5) TGT (Team games Tournament)
6) GI (Group Investigations
(20)
3.2
Hakikat Pembelajaran STAD
Model Pembelajaran STAD merupakan salah satu tipe model pembelajaran
kooperatif dengan menggnakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap
kelompok 4-5 orang secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan
pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok kuis, dan penghargaan
terhadap kelompok.
Slavin dalam (Trianto, 2011) menyatakan bahwa pada model pembelajaran
STAD siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4-5 orang yang merupakan
campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan
pelajaran, dan kemudian siswa bekerja dalam tim mereka memastikan bahwa seluruh
anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut.
1) Persiapan Pembelajaran STAD
Seperti halnya pembelajran lain, pembelajaran STAD juga membutuhkan
persiapan-persiapan matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Persiapan-persiapan
tersebut antara lain:
a.
Mempersiapkan perangkat pembelajaran
Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajran, perlu dipersiapakan perangkat
pembelajaran yang meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Buku siswa, lembar
kegiatan siswa beserta jawabannya.
b.
Membentuk kelompok kooperatif
Menentukan anggota kelompok diusahakan agar kemampuan antar satu kelompok
dengan kelompok lainnya relatif homogeny. Apabila memuningkinkan kelompok
kooperatif perlu memperhatikan ras, agama, jenis kelamin, dan latar belakang
sosial. Trianto (2011)vapabila dalam kelompok kelas terdiri atas ras dan latar
belakang yang relatif sama, maka pembentukan kelompok dapat didasarkan pada
prestasi akademik, yaitu dengan cara:
(21)
- Siswa dalam kelas terlebih dahulu dirangking sesuai kepandaian dalam ranah kognitif. Tujuannya adalah untuk mengurutkan siswa sesuai kemampuan kognitifnya.
- Menentukan tiga kelompok kelas dari data urutan yang meliputi kelompok atas, kelompok menengah, dan kelompok bawah. Kelompok atas sebanyak 25% dari seluruh siswa yang diambil dari urutan. Kelompok kelas bawah sebanyak 25% dari seluruh siswa yaitu terdiri atas siswa setelah diambil kelompok atas dan kelompok tengah.
c.
Menentukan skor awal
Skor awal yang dapat digunakan dalam kelas kooperatif adalah nilai ulangan
sebelumnya. Nilai awal ini dapat berubah setelah ada kuis. Misalnya
pembelajaran lebih lanjut dan setelah diadakan tes, maka nilai tes
masing-masing individu dapat dijadikan skor awal.
d.
Pengaturan tempat duduk
Pengaturan tempat duduk dalam kelas kooperatif perlu diatur dengan baik,
hal ini dilakukan untuk menunjang keberhasilan pembelajaran kooperatif. Apabila
tidak ada pengaturan tempat duduk dapat menimbulkan kekacauan yang menyebabkan
gagalnya pembelajaran pada kelas kooperatif
e.
Pelatihan kerja kelompok
Untuk mencegah adanya hambatan pada model pembelajaran STAD, terlebih
dahulu diadakan latihan kerjasama kelompok. Hal ini bertujuan untuk lebih jauh
mengenalkan masing-masing individu dalam kelompok. Hal ini dapat dilakukan
dengan cara memberikan pekerjaan rumah dalam bentuk tugas kelompok.
(22)
2) Langkah-langkah Pembelajaran STAD
Langkah-langkah pembelajaran STAD ini didasarkan pada langkah-langkah
pembelajaran kooperatif yang terdiri atas enam fase. Fase-fase dalam
pembelajran ini dapat dilihat pada tabel berikut:
|
Fase
|
Kegiatan Guru
|
|
1. Menyampaikan tujuan dan
motivasi siswa
|
Menyampaikan semua tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
belajar
|
|
2. Menyajikan/ menyampikan informasi
|
Menyajikan informasi kepada
siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau lewat bacaan
|
|
3. Mengorganisasikan siswa kedalam
kelompok-kelompok belajar
|
Menjelaskan kepada siswa
bagaimana membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar
melakukan transisi secara efisien
|
|
4. Membimbing kelompok bekerja dan
belajar
|
Membimbing kelompok – kelompok
belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
|
|
5. Evaluasi
|
Mengevaluasi hasil belajar
tentang materi yang telah dipelajari
|
|
6. Memberikan penghargaan
|
Mencari cara untuk menghargai
upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok
|
Tabel 2.2. Langkah pembelajaran STAD
(Ibrahim dkk, dalam Trianto (2011)
(23)
- Pedoman pemberian skor individu dan kelompok
Cirri khas dari pembelajaran STAD adalah adanya penghargaan atas
keberhasilan kelompok individu dan kelompok. Penghargaan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.
Menghitung skor individu
Menurut Slavin dalam (Trianto, 2011) untuk memberikan skor perkembangan
individu dihitung seperti pada tabel berikut:
|
Skor
Tes
|
Skor Perkembangan
Individu
|
|
a.
Lebih dari 10 poin di bawah skor awal
b.
10 hingga 1 poin di bawah skor awal
c.
Skor awal sampai 10 poin di atasnya
d.
Lebih dari 10 poin di atas skor awal
e.
Nilai sempurna (tidak berdasarkan skor awal)
|
5
10
20
30
30
|
Tabel 2.3. Perhitungan skor perkembangan
individu
b.
Menghitung skor kelompok
Skor kelompok dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan anggota
kelompok, yaitu dengan menjumlahkan semua skor perkembangan yang diperoleh
anggota kelompok dibagi dengan jumlah anggota kelompok. Sesuai dengan rata-rata
skor perkembangan kelompok, diperoleh kategori skor kelompok tercantum pada
tabel berikut:
|
Rata-rata
tim
|
Predikat
|
|
a.
0 < x < 5
b.
5 < x < 15
c.
15 < x < 25
d.
25 < x < 30
|
-
Tim
baik
Tim
hebat
Tim
super
|
Tabel 2.4. Perhitungan skor perkembangan individu
(sumber: Ratumanan dalam (Trianto,2011))
Tahap pemberian penghargaan kelompok,
berdasarkan skor rata-rata yang dikategorikan menjadi kelompok baik, kelompok
hebat dan kelompok super.
(24)
B. PENELITIAN YANG RELEVAN
Andi (2010) dalam penelitiannya, Penerapan Model Pembelajaran STAD untuk
meningkatkan hasil belajar RAB di SMK 1 Stabat, mengungkapkan bahwa
pembelajaran dengan menereapkan model STAD mampu meningkatkan hasil belajar
secara signifikan.
Ita (2011) Skripsi matematika: http://itayskripsimatematika.blogspot.com/
mengemukakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif mampu meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa.
Newman dan Thompson (1987) dalam Miftahul (2011), pada
peleitian-penelitiannya yang melibatkan metode-metode pembelajaran kooperatif
STAD, TGT, JIG-jigsaw, LT-Learning Together, GI-Group Investigation, mengungkapkan bahwa
dari 27 penelitian yang melibatkan 37 perbandingan antar kelompok kooperatif
dan kelompok control yang berusaha mengidentifikasi pengaruh model pembelajaran
kooperatif terhadap pencapaian siswa SMP dan SMA, 25 di antarannya (68%)
menemukan bahwa metode pembelajaran kooperatif berpengaruh signifikan terhadap
pencapaian siswa (dengan level minimal signifikansi 0,5)
(24)
C. KERANGKA BERFIKIR
Memperoleh proses dan hasil belajar yang optimal membutuhkan model
pembelajaran yang lebih bermakna dimana melalui model pembelajaran tersebut
mampu mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa secara
komprehensif. Untuk itu, pengetahuan dan pemahaman guru terhadap model
pembelajaran dalam pelaksanaan pembelajaran sangat penting sebagai salah satu
upaya untuk mengoptimalakan pembelajaran. Guru dituntut agar dapat meningkatkan
mutu pembelajaran dan harus memperhatikan hakikat, tujuan mata pelajaran yang
diajarkan, serta mempertimbangkan karakteristik siswa.
Menyikapi permasalah proses dan hasil belajar siswa kelas XI Program KEeahlian Teknik Gambar Bangunan di
SMK Negeri 1 Samadua dimana proses pembelajaran berjalan pasif dan hasil ujian
yang relative rendah, penulis menerapkan pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran STAD.
Sebagaimana dijabarkan dalam kajian teoritis bahwa pembelajaran STAD
merupakan salah satu bentuk pembelajaran kooperatif di mana di dalam kegiatan
pembelajaran mengutamakan kerjasama antar siswa untuk saling memperkuat pemahaman,
saling melengkapi, sehingga membangun karakter-karakter positif yang menekankan
toleransi terhadap sesama.
Dalam penerapannya, metode pembelajaran STAD mengharuskan setiap individu
mengembangkan kemampuannya secara optimal. Disamping itu, seorang siswa tidak
boleh membiarkan teman kelompoknya lalai dalam pembelajaran. Setiap kelompok
harus kompak mengoptimalkan kemampun masing-masing anggotanya untuk memperoleh
predikat kelompok terbaik. Nilai kelompok merupakan rataan yang berasal dari
kombinasi setiap nilai anggota kelompoknya. Dengan demikian, keseriusan dan
keaktifan belajar, akan ditularkan setiap anggota kelompok kepada anggota
kelompok lainnya sehingga kompetisi ini secara tidak langsung mengharuskan
setiap siswa saling membiasakan dan mengingatkan untuk meningkatkan kemampuan
diri.
(25)
D. HIPOTESIS TINDAKAN
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir tersebut di atas,
hipotesis tindakan yang diajukan sebagai berikut: setelah pelaksanaan tindakan terdapat
pengaruh atas penerapan model pembelajaran STAD terhadap partisipasi dan hasil
belajar RAB siswa kelas XI program keahlian Teknik Gambar Bangunan di SMK
Negeri 1 Samadua Kabupaten Aceh Selatan. Pada Kompetensi Dasar Menghitung
Volume/ Kubikasi Pekerjaan pada Konstruksi Bangunan Sederhana.
(26)
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Samadua
Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan untuk mata pelajaran Rencana Anggaran
Biaya (RAB). Penelitian ini akan dilaksanakan pada awal semester ganjil Tahun
Pembelajaran 2012/2013, yaitu bulan Nopember sampai dengan Desember 2012.
B. SUBJEK PENELITIAN
Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas XI
Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan di SMK Negeri 1 Samadua Kabupaten Aceh
Selatan Tahun Pembelajaran 2012/2013
C. PARTISIPAN PENELITIAN
Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Program Keahlian
Teknik Gambar Bangunan SMK Negeri 1 Samadua. Dalam kelas ini terdiri dari 12
siswa yang terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Dalam
penelitian ini dibantu oleh satu orang guru mata pelajaran RAB sebagai mitra
dan penulis sendiri sebagai pelaku tindakan.
D. METODE DAN RANCANGAN PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
tindakan kelas. Pemilihan metode ini didasari sebagai upaya peningkatan
efektivitas pembelajaran yang berlangsung dalam tahapan siklus. Setiap siklus
direncanakan akan dilakukan dalam tiga pertemuan kegiatan pembelajaran. Bermula
dari perencanaan, tindakan, observasi, refleksi, dan kembali perencanaan untuk
tindakan kelas. Diharapkan masalah praktis pembelajaran dapat
diatasi. Oleh karena itu paradigm penelitian ini berawal dari pengamatan guru terhadap
kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan guna perbaikan di masa
yang akan datang.
(27)
Ebbut dalam Justina (2010) menyatakan bahwa: penelitian tindakan kelas
adalah kajian sistematik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktik pendidikan
oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran
berdasarkan refleksi mereka dari hasil tindakan-tindakan tersebut.
Gambar 3.1 Desain PTK Model DDAER
(sumber: Modul Pelatihan PPG, FT-UNY)
1.
Diagnosis Masalah
2.
Perancangan Tindakan
3.
Pelaksanaan Tindakan
dan Observasi Tindakan
4.
Evaluasi
5.
Refleksi
Penelitian
tindakan ini dilakukan berdasarkan permasalahan, selanjutnya pemilihan
kemungkinan pemecahan masalah, dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan yang
telah dipilih sampai pada tahap evaluasi untuk selanjutnya merefleksi hasil
tindakan yang kemudian dilanjutkan dengan perumusan tindakan berikutnya. Proses
penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam rangkaian siklus, setiap siklus akan
dilakukan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Berikut Diagram Alur
Rancangan Penelitian yang penulis rencakan.
(28)
Lebih rinci rancangan penelitian tindakan diuraikan sebagai berikut:
|
Siklus 1
|
|||
|
Tahap
|
Kegiatan
|
Hasil
|
|
|
Persiapan
|
Sosialisasi tentang PTK dan
Identifikasi masalah pengajaran
|
-
Pemahaman
tentang PTK
-
Masalah-masalah
dalam pembelajaran
|
|
|
Perencanaan
|
-
Menyusun jawal
kegiatan
-
Menyusun
langkah-langkah kegiatan
-
Menyusun
rencana pelaksanaan dan skenario pembelajaran
-
Menyusun
standar pencapaian minimal
-
Menyusun
instrumen penelitian
|
-
Tersedia jadwal
kegiatan
-
Tersedia
langkah-langkah kegiatan
-
Tersedia
rencana pelaksanaan dan skenario pembelajaran
-
Standar
pencapaian penelitian
-
Instrumen
penelitian
|
|
|
Tindakan
|
-
Mempersiapkan
kelas, alat dan media pembelajaran sesuai dengan RPP
-
Melaksanakan
pembelajaran sesuai dengan skenario yang telah dipersiapkan
|
-
Kondisi kelas
siap untuk pembelajaran
-
Kegiatan
pembelajaran sesuai dengan rencana tindakan.
|
|
|
Evaluasi
|
Menganalisa hasil tes dan
observasi pada pelaksanaan tindakan untuk menetapkan tingkat keberhasilan.
|
Tingkat
keberhasilan tindakan
|
|
|
Refleksi
|
Mengkaji
berbagai hal yang terjadi dan yang seharusnya dilakukan
|
-
Keunggukan dan
kelemahan tindakan
-
Informasi untuk
rencana tindakan selanjutnya.
|
|
|
SIKLUS 2
|
|||
|
Mendiag-nosis
masalah
|
Mengidentifikasi
masalah yang timbul terkait tujuan
penelitian setelah pelaksanaan tindakan sebelumnya.
|
Rumusan tindakan yang harus
dilakukan pada siklus 2
|
|
|
Perencanaan
|
Menyusun rencana
pelaksanaan dan skenario pembelajaran sesuai dengan tujuan penelitian dan
hasil analisis tindakan pada siklus pertama
|
Rencana pelaksanaan
pembelajaran dan skenario pembelajaran siklus 2
|
|
|
Tindakan
|
Melaksanakan pembelajaran
sesuai dengan skenario yang telah disiapkan (RPP)
|
Kegiatan
pembelajaran
|
|
|
Evaluasi
|
-
Menganalisis
data penelitian
-
Menyimpulkan
keberhasilan
|
Persentase peningkatan
partisipasi dan hasil belajar
|
|
|
Refleksi
|
Mengkaji hal-hal yang
terjadi dalam pelaksanaan tindakan
|
Rekomendai
untuk menentukan apakah tindakan harus dilanjutkan.
|
|
Tabel 3.1. Rancangan
Penelitian
(29)
E. TEKNIK DAN ALAT PENGUMPULAN DATA
Untuk mengumpulkan data dalam
penelitian ini, teknik pengumpulan data yang akan digunakan berpedoman pada
paradigma penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Eka Mulyani dalam
Justina (2010) menyatakan penelitian kualitatif yaitu penelitian dimana data
yang dikumpulkan dalam bentuk simbol-simbol pernyataaan-pernyataan dan
perasaan-perasaan. Sedangkan penelitian kuantitatif adalah penelitian yang
datanya dilambangkan dengan simbol matematik yang berupa angka-angka.
Dalam penelitian tindakan ini,
teknik pengumpulan data yang digunakan
penulis tertera pada tabel berikut:
|
Teknik Pengumpul Data
|
Alat Pengumpul Data
|
Aspek yang diamati
|
Waktu
|
|
Tes
-
Tes
Objektif
|
Soal
|
Tes hasil
belajar
|
-
Akir
pembelajaran
-
Akhir
Siklus
|
|
Observasi
|
Lembar observasi
|
Prtisipasi belajar
siswa
|
Pelaksanaan pembelajaran
|
Tabel
3.2. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Tabel di atas menunjukkan alat
dan teknik pengumpulan data, aspek yang diamati, serta waktu kapan digunakan
teknik dan alat pengumpulan data tersebut dalam pelaksanaan tindakan. Sumber
data penelitian adalah aktivitas guru dan siswa selama proses peaksanaan tindakan baik di awal
pembelajaran, pada saat pembelajaran, dan di akhir pembelajaran.
(30)
Observasi dilakukan pada saat
proses pembelajaran berlangsung. Observasi dilaksanakan untuk melihat sejauh
mana siswa berpartisipasi positif dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan. Tes
dilakukan setelah pembelajaran pada pertemuan setiap siklusnya melalui kuis dan
juga pada akhir setiap siklus yang telah
direncanakan. Tes dilaksanakan untuk melihat hasil belajar siswa setelah
pelaksanaan tindakan pada kompetensi yang telah ditetapkan. Secara lebih detail
distribusi instrumen tes dan nontes dapat dilihat dalam kisi-kisi instrumen
berikut:
|
Kompetensi Dasar
|
Indikator
|
Jenis Tes
|
No mor Soal
|
Jumlah
|
Ranah Kognitif
|
Ket
|
||
|
C1
|
C2
|
C3
|
||||||
|
Menghitung volume pekerjaan struktur dan non
struktur bangunan gedung sederhana.
|
SIKLUS 1
|
|
||||||
|
- Menghitung volume pekerjaan Kap dan atap (10,11)
|
Tes objektif
|
1, 2,
3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10
|
10
|
1, 2
|
3, 4, 5,
|
6, 7, 8, 9, 10
|
Pilihan ganda
(kuis)
|
|
|
- Menghitung volume pekerjaan plesteran (12)
|
Tes objektif
|
11, 12, 13, 14
|
4
|
11
|
12
|
13, 14
|
Pilihan ganda
(kuis)
|
|
|
- Menghitung volume pekerjaan lantai (12)
|
Tes objektif
|
15, 16, 17, 18, 19, 20
|
6
|
15,
|
16, 17,
|
18, 19, 20
|
Pilihan ganda
(kuis)
|
|
|
SIKLUS 2
|
||||||||
|
- Menghitung volume pekerjaan pintu dan jendela (13)
|
Tes objektif
|
21, 22, 23, 24, 25, 26, 27
|
7
|
21, 22
|
23, 24
|
25, 26, 27
|
Pilihan ganda
(kuis)
|
|
|
- Menghitung volume pekerjaan pengecatan (13)
|
Tes objektif
|
28, 29, 30
|
3
|
28,
|
29,
|
30
|
Pilihan ganda
(kuis)
|
|
|
- Menghitung
volume pekerjaan perlengka-pan luar dan dalam (14)
- Merekapitu-lasi data perhitungan volume pekerjaan
(14)
|
Tes objektif
|
31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40
|
10
|
31, 32, 33
|
33, 34, 35
|
36, 37, 38, 39, 40
|
Pilihan ganda
(ujian)
|
|
|
- Tes Ujian Siklus 1, 2
(15)
|
Tes objektif
|
41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 47, 49, 50, 51, 52,
53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60
|
20
|
41, 45, 50, 56,
|
42, 43, 46, 48 53, 54, 57,
|
44, 47, 49, 51. 52, 55, 58, 59, 60
|
Pilihan ganda
|
|
Tabel
3.3. Kisi-kisi tes hasil belajar RAB Siklus 1 dan Siklus 2
(31)
|
Kompetensi Dasar
|
Indikator Pembelajaran
|
Indikator pernyataan
|
Indikator Partisipasi Belajar yang diamati
|
|
Menghitung volume/ kubikasi
pekerjaan pada konstruksi bangunan sederhana.
|
Siklus 1
|
||
|
-
Menghitung volume pekerjaan Kap dan atap (10,11)
|
-
Pengetahuan tentang kap dan
atap
-
Melakukan perhitungan volume
kap/ atap di papan tulis
|
-
Bertanya
-
Menjawab pertanyaan
-
Mengemukakan ide
-
Merespon ide/ gagasan
-
Berdiskusi kelompok
- Mengerjakan kuis
|
|
|
- Menghitung volume
pekerjaan plesteran (12)
|
-
Pengetahuan tentang plesteran
-
Demonstrasi perhitungan
volume plesteran di papan tulis
|
-
Bertanya
-
Menjawab pertanyaan
-
Mengemukakan ide
-
Merespon ide/ gagasan
-
Berdiskusi kelompok
- Mengerjakan kuis
|
|
|
- Menghitung volume pekerjaan
lantai (12)
|
-
Pengetahuan tentang pekerjaan
lantai
-
Demonstrasi perhitungan
volume pekerjaan lantai di papan tulis
|
-
Bertanya
-
Menjawab pertanyaan
-
Mengemukakan ide
-
Merespon ide/ gagasan
-
Berdiskusi kelompok
- Mengerjakan kuis
|
|
|
Siklus 2
|
|||
|
- Menghitung volume
pekerjaan pintu dan jendela (13)
|
-
Pengetahuan tentang pekerjaan
pintu dan jendela
|
-
Bertanya
-
Menjawab pertanyaan
-
Mengemukakan ide
-
Merespon ide/ gagasan
-
Berdiskusi kelompok
- Mengerjakan kuis
|
|
|
- Menghitung volume
pekerjaan pengecatan (13)
|
-
Pengetahuan tentang pekerjaan
pengecatan
-
Demonstrasi perhitungan
volume pekerjaan pengecatan di papan tulis
|
-
Bertanya
-
Menjawab pertanyaan
-
Mengemukakan ide
-
Merespon ide/ gagasan
-
Berdiskusi kelompok
- Mengerjakan kuis
|
|
|
-
Menghitung volume pekerjaan
perlengka-pan luar dan dalam (14)
|
-
Pengetahuan tentang pekerjaan
perlengkapan luar dan dalam suatu konstruksi bangunan
|
-
Bertanya
-
Menjawab pertanyaan
-
Mengemukakan ide
-
Merespon ide/ gagasan
-
Berdiskusi kelompok
- Mengerjakan kuis
|
|
|
- Merekapitulasi data
perhitungan volume pekerjaan (14)
|
-
Pengetahuan tentang uraian
pekerjaan
|
-
Bertanya
-
Menjawab pertanyaan
-
Mengemukakan ide
-
Merespon ide/ gagasan
-
Berdiskusi kelompok
- Mengerjakan kuis
|
|
Tabel
3.4. Kisi-kisi observasi pengamatan partisipasi belajar siswa
(32)
F.
UJI
COBA INSTRUMEN PENELITIAN
Sebelum digunakan sebgai alat
pengumpul data tes tersebut diujicobakan pada siswa di luar sampel dan
didiskusikan bersama para ahli statistik terlebih dahulu sehingga dapat
diketahui validitas, reabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda tes
tersebut. Sedangkan instrumen nontes dalam penelitian ini observasi, harus
didiskusikan bersama para ahli sehingga diperoleh validitas isi intrumen nontes
tersebut.
1.
Validitas
Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak
diukur. Validitas sebuah tes dapat diketahui dari hasil pemikiran dan dari
hasil pengalaman, hal pertama yang akan diperoleh adalah validitas logis. Logis
berarti penalaran, maka validitas logis untuk sebuah instrumen menunjukkan pada
kondisi instrumen yang memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran
(Arikunto, 2006). Untuk mengukur validitas butir tes pada penelitian ini
digunakan rumus Korelasi Point Biserial, yaitu :
|
|
Dimana :
rpbis =
koefisien korelasi point biserial
Mp =
mean skor dari subjek – subjek yang menjawab benar
Mt =
mean skor total (skor rata – rata dari seluruh pengikut tes)
p =
proporsi subjek yang menjawab benar soal tersebut
q = 1 – p
(33)
Kemudian harga rpbis hitung dikonsultasikan dengan harga rpbis
tabel dengan taraf signifikansi 5 %. Apabila rpbis hitung >
rpbis tabel maka butir tes tersebut valid dan demikian sebaliknya.
Apabila rpbis hitung < rpbis
tabel maka butir tes tersebut tidak valid.
2. Indeks Kesukaran Tes
Menurut Arikunto (2006) soal baik adalah soal yang tidak terlalu mudah
dan tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk
mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan
menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba
lagi karena diluar jangkauannya. Rumus mencari indeks kesukaran (P) adalah :
|
|
Dimana
: P
= indeks kesukaran
B = banyaknya siswa yang menjawab benar
JS = jumlah
seluruh peserta tes
Arikunto (2006) mengklasifikasikan indeks kesukaran sebagai berikut :
1)
soal dengan P = 1,00 sampai 0,30 adalah soal sukar
2)
soal dengan P = 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang
3)
soal dengan P = 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah
Walaupun
demikian ada yang berpendapat bahwa soal yang dianggap baik yaitu soal-soal
yang sedang yaitu soal yang mempunyai indeks kesukaran 0,30 sampai 0,70.
(34)
3. Daya Pembeda Tes
Arikunto (2006) mengatakan daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu
soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan
siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Dalam mencari daya pembeda subjek
peserta tes dipisahkan menjadi dua bagian sama besar berdasarkan skor total
yang mereka peroleh. Rumus yang digunakan untuk mencari daya pembeda setiap
butir tes adalah :
|
|
Dimana :
D = daya
pembeda butir soal
JA =
banyaknya peserta kelompok atas
JB =
banyaknya peserta kelompok bawah
BA =
banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar
BB =
banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab benar
Harga daya pembeda menurut Arikunto (2006) diklasifikasikan sebagai
berikut :
0,00 – 0,20 = Buruk
0,21 – 0,40 = Cukup
0,41 – 0,70 = Baik
0,71 – 1,00 = Baik Sekali
(35)
4. Uji Reliabilitas Butir Tes
Arikunto (2006) mengatakan bahwa reliabilitas menunjuk pada suatu
pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai
alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik
tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawaban –
jawaban tertentu. Instrumen yang sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan
menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Apabila datanya memang benar
sesuai dengan kenyataannya, maka berapa kalipun diambil tetap akan sama.
Reliabilitas menunjukkan pada tingkat keterandalan sesuatu. Reliabel artinya,
dapat dipercaya. Perhitungan reliabilitas tes siswa yang diperoleh akan
dikonsultasikan dengan rtabel pada taraf signifikan 5 %. Untuk
menghitung reliabilitas butir tes siswa digunakan rumus KR20 seperti
yang dikemukakan oleh Arikunto (2006), yaitu :
|
|
Dimana :
r11 = koefisien reliabilits tes
keseluruhan
n = banyak butir tes
St2 = varians total
P =
proporsi test yang menjawab dengan benar
Q = proporsi test yang
jawabannya salah, q = 1 – p
Harga efisien reliabilitas tes yang telah diperoleh dikonfirmasikan
dengan kriteria reliabilitas tes (Arikunto, 2006) yaitu sebagai berikut :
0,80 – 1,00 = Sangat
Tinggi
0,60 – 0,79 = Tinggi
0,40 – 0,59 = Cukup
0,20 – 0,39 = Rendah
0,00 – 0,19 = Sangat
Rendah
(36)
G.
ANALISIS
DATA
Teknik
analisis data dilakukan secara
deskriptif kualitatif dan kuantitatif sederhana. Data yang akan dianalisis
dalam penelitian ini adalah:
1. Partisipasi belajar RAB siswa dengan model STAD
Partisipasi
belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan partisipasi siswa dalam
pembelajaran RAB sebelum dan setelah mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran
STAD, yang terlihat dalam lembar observasi.
Adapun
perhitungan tingkat pertisipasi belajar siswa dilakukan dengan cara:
-
Partisipasi
belajar siswa secara umum
N = Jumlah skor total dari enam
indikator yang diamati
-
Partisipasi
belajar siswa berdasarkan indikator ke-i
ni = Jumlah skor kelas dari indikator ke-i yang diamati.
(37)
2.
Analisa
terhadap hasil belajar siswa
Untuuk
mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran STAD terhadap hasil belajar
siswa, analisis dilakukan melalui tahapan:
a.
Tabulasi data
Nilai-nilai
yang diambil sebagai rataan akhir untuk diuji signifikansi kenaikannya berasal
dari nilai-nilai kuis, dan nilai ujian semester ganjil (khusus soal dari
indikator pembelajaran yang ada termasuk dalam siklus tindakan sebanyak 20 soal)
dengan bobot kuis 40% dan ujian 60% dari nilai total.
b.
Menentukan nilai rata-rata kelas:
c.
Menentukan nilai kelulusan siswa:
-
Jika nilai ujian > nilai KKM maka siswa lulus, jika tidak harus
diremedial
d.
Menentukan persen kelulusan siswa
n = Jumlah siswa lulus, N = Jumlah seluruh siswa
e.
Uji signifikansi kenaikan nilai sebelum dan sesudah pelaksanaan
pembelajaran STAD:
Untuk
menentukan tingkat keberartian peningkatan hasil belajar siswa, digunakan uji t
dua sampel berhubungan sebagai berikut:
Taraf
signifikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0,05 dengan nilai df =
(n-1)
(Moh. Nazir, 2005)
(38)
H.
INDIKATOR
KEBERHASILAN
Komponen-komponen yang menjadi indikator perubahan pada setiap siklus
dalam rancangan penelitian ini adalah:
1.
Indikator pertama untuk menunjukkan keberhasilan proses
pembelajaran adalah suksesnya peneliti dalam melaksanakan proses pembelajaran
dan suksesnya siswa dalam mengikuti pembelajaran. Suksesnya peneliti dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran dilihat dari terlaksananya rencana
pelaksanaan tindakan. Peneliti tidak menemui masalah yang serius berkaitan
dengan fasilitas, materi, dan prosedur pelaksanaan tindakan. Suksesnya siswa
dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dilihat dari partisipasi positif siswa dalam
pembelajaran. Partisipasi belajar siswa meningkat dibandingkan dengan
pelaksanaan pembelajaran sebelum menggunakan model pembelajaran STAD.
2.
Indikator kedua yang menunjukkan adanya pengaruh
penerapan model pembelajaran STAD adalah terjadinya perubahan hasil belajar
siswa. Dalam hal ini tentunya perubahan positif yang diinginkan (peningkatan
hasil belajar). Penelitian dianggap sukses atau efektif apabila:
a.
siswa dapat menunculkan respon-respon yang diharapkan
(partisipasi belajar) setelah berlangsungnya kegiatan pembelajaran.
b.
Rata-rata skor tes siswa > 70%, hal ini
mengacu pada kriteria ketuntasan belajar minimum yang diterapkan di sekolah.
c.
Peningkatan nilai rata-rata skor tes siswa dianggap
signifikan setelah dilakukan uji T dalam taraf signifikan 0,05, apabila nilai t
lebih besar daripada nilai t pada table distribusi t dalam (Nazir, 2005)
(39)
I.
JADWAL
PENELITIAN
Penelitian ini direncanakan terjadwal sebagai berikut:
|
N
O
|
Kegiatan
|
September
|
Oktober
|
Nopember
|
Desember
|
Januari
|
||||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
Pra Penelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Pengajuan Judul
Penelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Bimbingan skripsi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Observasi awal
penelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Penyusunan proposal
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Pengajuan seminar proposal
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Uji instrumen
penelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Penelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Siklus 1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a.
Diagnosis masalah
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
b.
Perancangan tindakan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
c.
Pelaksanaan tindakan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
d.
Evaluasi siklus 1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
e.
Refleksi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Siklus 2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a.
Diagnosis masalah
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
b.
Perancangan tindakan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
c.
Pelaksanaan tindakan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
d.
Evaluasi siklus 2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
e.
Refleksi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Pengolahan data
penelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Menyusun laporan hasil
penelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
(40)
SILABUS
Nama Sekolah :
SMK Negeri 1 Samadua
Mata Pelajaran :
Rencana Anggaran Biaya
Kelas/ Semester :
XI/ 1,2
Standar Kompetensi :
Menghitung rencana anggaran biaya konstruksi bangunan sederhana
Alokasi waktu : 32 Pertemuan (2 x 40 menit)
|
Kompetensi Dasar
|
Materi Pembelajaran
|
Kegiatan Pembelajaran
|
Indikator
|
Penilaian
|
Alokasi
Waktu
|
Sumber/
Bahan/ Alat/ Media
|
||||
|
TM
|
PS
|
PL
|
||||||||
|
1.
Membaca Gambar Bestek
|
-
Dasar-dasar RAB
-
Bestek (Peraturan dan Syarat Tekniks)
-
Gambar Bestek
|
-
Mengkaji literature tentang RAB
-
Mengkaji literatur tentang Bestek
-
Mengamati gambar bestek
|
-
Menjelaskan pengertian RAB
-
Mengidentifikasi unsur-unsur pokok menyusun RAB
-
Mendeskripsikan hakikat bestek
-
Mengidentifikasi gambar bestek
|
Tes tertulis
|
2
|
|
|
Sumber:
-
Buku pelajaran RAB:
-
Rencana dan Estimate Real of Cost (H.Bachtiar Ibrahim, Bumi Aksara; 2008)
-
Cara Cepat Menghitung Biaya Membangun Rumah (Gatut Susanta, Griya Kreas;2011)
-
Internet
-
Bestek
-
Gambar Rencana Pembangunan Rumah (gambar
bestek)
-
Proyek pembangunan gedung sederhana
Alat:
-
Computer
-
Lcd
Media
-
Power point
-
White board
|
||
|
2.
Menghitung Volume/ Kubikasi Pekerjaan pada Konstruksi bangunan
Sederhana
|
-
Pengertian Kubikasi pekerjaan
-
Uraian Kubikasi Pekerjaan
-
Pekerjaan persiapan
-
Pekerjan Pondasi
-
Pekerjaan Beton bertulang
-
Pekerjaan dinding
-
Pekerjaan KAP dan Atap
-
Pekerjaan plafond
-
Pekerjaan plesteran
-
Pekerjaan lantai
-
Pekerjaan pintu dan jendela
-
Pekerjaan cat
-
Pekerjaan perlengkapan dalam
-
Pekerjaan perlengkapan luar
|
-
Mengkaji literature tentang kubikasi pekerjaan
-
Mengamati komponen-komponen bangunan melalui kunjungan proyek ataupun
melalui contoh gambar
|
-
Mengidentifikasi pengertian kubikasi pekerjaan
-
Menguraikan pekerjaan-pekerjaan yang akan dihitung kubikasinya. (3)
-
Menghitung volume pekerjaan persiapan
-
Menghitung volume pekerjaan pondasi (4, 5)
-
Menghitung volume pekerjaan beton bertulang (6,7)
-
Menghitung pekerjaan dindidng (9)
-
Menghitung volume pekerjaan Kap dan atap (10,11)
-
Menghitung volume pekerjaan plesteran
-
Menghitung pe-kerjaan lantai (12)
-
Menghitung volume pekerjaan pintu dan jendela
-
Menghitung volume pekerjaan pengecatan (13)
-
Menghitung volume peker-jaan
perleng-kapan luar dan dalam (14)
-
Merekapitulasi data perhitungan volume pekerjaan (15)
|
Tes tertulis
|
14
|
|
|
|||
|
3.
Menghitung dan Mengurai-kan Harga Satuan Pekerjaan
|
-
Analisa bahan
-
Analisa upah
-
Uraian tenaga kerja
-
Uraian bahan/ material
-
Uraian harga satuan pekerjaan
|
-
Mengkaji literature analisa upah dan bahan
-
literature harga satuan pekerjaan
-
Mencari analisa satuan pekerjaan,
data upah dan bahan dari dina PU
|
-
Mengidentifikasi kebutuhan bahan
-
Mengidentifikasi upah pekerjaan
-
Menghitung kebutuhan tenaga kerja tiap volume pekerjaan
-
Menghitung harga satuan pekerjaan
|
Tes tertulis
|
10
|
|
|
|||
|
4.
Menghitung Estimate Real of Cost
|
-
Persentase pekerjaan
-
Time schedule
|
Mengkaji
literature tentang persentase pekerjaan dan pengolahan time schedule
|
-
Menghitung persentase tiap uraian pekerjaan
-
Membuat time schedule
|
Tes tertulis
|
6
|
|
|
|||
(Sumber silabus: Ka. Jur. Teknik Gambar Bangunan SMK N 1 Samadua)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar